TIMIKA – jurnalpapua.id
Berhasil masuk menjadi nominasi Innovative Government Award (IGA) Tahun 2025, inovasi Simacemuda (Sistem Manajemen Pemasaran Cepat, Mudah, dan Aman) diuji langsung oleh tim validasi nominator Indonesia Timur, Kamis (14/11/2025).

Tim validasi yang terdiri dari Asmi Citra Malina, S.Pi., M.Agr., PhD, Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Universitas Hasanuddin, dan Sopar Baktiar Marpaung, SH, Penata Layanan Operasional, Kementerian Dalam Negeri.

Kedua tim validasi didampingi Sekretaris Bappeda Mimika, Yosep Manggasa,S.T., M.Si bersama tim mengunjungi langsung lokasi tempat pembelian komoditas pangan lokal di Kampung Mimika Gunung, Distrik Kuala Kencana untuk memvalidasi item dari inovasi Simacemuda.

Selanjutnya, tim diajak untuk melihat langsung kegiatan kios pangan keliling yang diselenggarakan di kompleks perumahan BTN Kamoro, Distrik Wania.
Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Universitas Hasanuddin (Unhas), Asmi Citra Malina, S.Pi., M.Agr., PhD, selaku juri IGA 2025 wilayah Papua, mengatakan bahwa sebelumnya tim telah menerima paparan dari Bupati Mimika melalui zoom, yang kemudian dilanjutkan dengan verifikasi lapangan.

“Kami sudah melakukan validasi langsung untuk SIMACEMUDA. Dari hasil penilaian, ini merupakan inovasi luar biasa dan bisa menjadi contoh bagi wilayah Papua, terutama dalam aspek pemasaran,” ujarnya.
Namun, Asmi menilai ada sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, seperti mekanisme kerja inovasi, kelengkapan regulasi termasuk SK SOP dan PIC serta penguatan manajemen pencatatan aktivitas.
“Inovasi harus memiliki pencatatan manajemen sebagai dasar keberhasilan. Jangan sampai kita membuat inovasi, tetapi tidak bisa diukur. Testimoni tidak cukup menjadi indikator penilaian,” tegasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mimika sekaligus penggagas inovasi, Yulius Koga, menjelaskan bahwa SIMACEMUDA awalnya dikembangkan sebagai proyek perubahan. Namun melihat hambatan pemasaran yang dialami pelaku usaha dan petani lokal, inovasi ini kemudian dikembangkan menjadi sistem pemasaran komoditas lokal Mimika.
“Ada tiga masalah utama dalam pemasaran produk lokal: akses pasar terbatas, kondisi geografis, dan panjangnya rantai distribusi. Karena itu kami membangun SIMACEMUDA untuk mempercepat pemasaran produk binaan,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, pemasaran dilakukan lewat tiga kanal utama: Toko Tani, Kios Keliling, dan Gerakan Pangan, yang seluruhnya terintegrasi dalam platform SIMACEMUDA.
Koga menambahkan, keberadaan sistem ini membuat pemasaran produk UMKM binaan lebih efektif dan mudah diakses masyarakat.
“Kami berharap inovasi ini tidak hanya memudahkan masyarakat, tapi juga memberi dampak positif bagi perkembangan inovasi daerah di Mimika.
Inovasi ini dinilai menjadi salah satu program daerah yang memperkuat ketahanan pangan berbasis data dan layanan masyarakat,” imbuhnya. (**)























Discussion about this post