TIMIKA – jurnalpapua.id
Puluhan massa yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Mimika Peduli Konflik Sosial menggelar aksi demo damai di Kantor DPRK Mimika pada Rabu (7/1/2026).
Massa yang hadir membawa spanduk besar bertuliskan “Aksi Damai Solidaritas Rakyat Mimika Peduli Konflik Sosial Pemda Mimika Harus Bertanggung Jawab Atas Konflik Berkepanjangan di Kwamki Narama”.
Kedatangan massa diterima oleh Wakil Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPRK Mimika, Anton Alom Niwilingame, Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolfin Beanal dan sejumlah anggota DPRK Mimika lainnya seperti Ester Tsenawatme, Elinus Mom dan Herman Gafur.
Negosiator Aksi, Amianus Wamang mengatakan, tujuan kedatangan massa melakukan aksi damai ini adalah hanya untuk perdamaian.
“Perdamaian ini mencakup semua hal. Terutama merujuk masalah konflik perang suku yang terjadi di Kwamki Narama yang sudah empat bulan belum ada penyelesaian. Makanya kami menuntut Pemda untuk segera menangani masalah ini,” katanya.
Menurutnya, masalah ini bukan tentang Kwamki Narama saja, tetapi ada juga masalah lain seperti pengungsian di Jila, masalah di Kapiraya serta kasus kriminal lainnya.
Namun kenyataannya, pemerintah justru menyampaikan di media bahwa Timika aman. Sedangkan kenyataannya setiap hari terjadi kasus kriminal.
Diakuinya, warga Timika resah dengan kejadian ini. Bukan hanya warga dari Kwamki Narama tapi masyarakat lainnya juga demikian.
“Kami ini adalah orang-orang yang terkena dampak dari pada konflik tersebut. Kami rindu damai sehingga masyarakat bisa beraktivitas secara biasanya. Itulah tujuan kami ke sini,” ujarnya.
Menurutnya, di Kwamki Narama ada lima gereja yang tutup bahkan sekolah juga akibat dari kejadian itu. Secara psikologi pasti terganggu tapi Pemda tidak melihat secara serius.
“Kami minta sesuatu yang nyata agar pemerintah benar-benar seriusi menangani masalah ini. Dengan harapan persoalan yang terjadi di Kabupaten Mimika ini bisa benar-benar diseriusi. Inilah yang kami suarakan untuk semua,” jelasnya.
Dirinya juga berharap, kedepan Kwamki Narama bisa dijadikan tempat wisata budaya, supaya orang memiliki kesibukan sehingga tidak berfikir konflik. Sebab, mereka di sana ada aktivitas sehingga mereka perang. Harusnya pemerintah hadir menciptakan solusi. Menciptakan lapangan pekerjaan. Supaya masyarakat ikut terlibat.
Sementara itu, Wakil Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPRK Mimika, Anton Alom Niwilingame mengucapkan terima kasih karena mau menyuarakan perdamaian.
“Di sinilah tempatnya menyampaikan aspirasi. Karena semua peduli maka konflik harus dihentikan. Saya orang dari Kwamki Narama selalu dihadapkan dengan perang dan saya tahu jalurnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolfin Beanal menambahkan, untuk masalah ini tidak perlu lihat kabupatennya tapi lihat manusianya.
“Kita akan segera tuntaskan masalah ini. Dan semoga hari ini ada titik terang,” pungkasnya.(**)























Discussion about this post