TIMIKA — jurnalpapua.id
Rencana pemakaman korban pembunuhan di Jl WR Supatman (Petrosea) berubah. Keluarga korban memilih menunda proses penguburan dan berencana melakukan pembakaran jenazah (kremasi), dipicu kekecewaan dan emosi yang masih memuncak di kalangan kerabat.
Perwakilan keluarga korban, Awen Magai, mengaku telah berupaya menenangkan situasi sekaligus mendorong penyelesaian hukum terhadap pelaku. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan adanya tekanan dari pihak keluarga, khususnya yang datang dari Kimbely, Tembagapura.
“Saya sudah berusaha mendamaikan dan meminta pelaku ditangkap. Tapi ada kekecewaan dari keluarga. Mereka minta satu kali aksi sebagai pelampiasan,” ujar Awen di Kwamki Narama, Selasa (31/3/2026).
Ia menyebut seluruh keluarga telah berkumpul dan meminta kesempatan satu hari untuk meluapkan emosi. Meski berat, Awen mengaku terpaksa mengakomodasi permintaan tersebut demi mencegah konflik yang lebih luas.
“Dari awal saya sudah menenangkan keluarga. Ini masalah baru, emosi sudah tinggi. Saya hanya minta satu hari saja, walaupun sebenarnya saya tidak menginginkan. Banyak tekanan ke saya karena situasi sudah sangat panas,” katanya.
Menurut Awen, keinginan keluarga hanya sebatas melepaskan busur. Ia bahkan mempertaruhkan dirinya jika aksi tersebut berujung pada korban lain.
“Kalau sampai ada korban di luar itu, saya siap bertanggung jawab, bahkan dipenjara,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kapolsek Kwamki Narama, Ipda Adnan, menjelaskan bahwa awalnya korban direncanakan dimakamkan secara umum hari ini. Namun, setelah kedatangan keluarga dari Tembagapura, terjadi perubahan keputusan di internal keluarga.
“Memang sempat terjadi pro dan kontra. Sebagian keluarga menginginkan jenazah dibakar karena dianggap sebagai korban perang dari konflik yang terjadi sebelumnya,” jelas Adnan.
Ia menambahkan, rencana pembakaran jenazah sempat akan dilakukan pada malam hari. Namun, aparat keamanan mengarahkan agar ditunda hingga pagi hari (besok) dengan pertimbangan situasi kamtibmas.
“Kami sudah berupaya maksimal agar pembakaran tidak dilakukan dan tetap kembali ke rencana awal, yaitu pemakaman. Karena pengalaman yang ada, pembakaran jenazah sering memicu konflik lanjutan,” ujarnya.
Hingga saat ini, aparat kepolisian masih bersiaga penuh di lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan memastikan situasi tetap terkendali. (**)



































Discussion about this post