TIMIKA – jurnalpapua.id
Antusiasme masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke SMA Negeri 1 Mimika pada Tahun Ajaran 2026/2027 terlihat sejak dini hari. Sejumlah calon siswa bahkan telah mengantre sejak pukul 03.00 WIT, sementara sebagian lainnya memilih datang sejak malam sebelumnya demi mendapatkan kesempatan mengikuti proses pendaftaran.
Meski membludaknya peminat, pelaksanaan penerimaan murid baru yang berlangsung pada Senin (22/6/2026) berjalan tertib dan lancar tanpa kericuhan. Kondisi ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang kerap diwarnai kepadatan dan protes dari orang tua siswa.
SMA Negeri 1 Mimika yang masih menjadi salah satu sekolah favorit di Kabupaten Mimika hanya menyediakan kuota sebanyak 432 siswa. Kuota tersebut terbagi dalam empat jalur penerimaan, yakni jalur domisili atau zonasi sebanyak 168 siswa (39 persen), jalur afirmasi Orang Asli Papua (OAP) 130 siswa (30 persen), jalur prestasi 130 siswa (30 persen), dan jalur mutasi empat siswa (1 persen).
Ketua Panitia Koordinator Penerimaan Murid Baru Tahun 2026 yang juga Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Mimika, Nius Wenda, mengatakan pelaksanaan penerimaan tahun ini berlangsung lebih tertib karena seluruh tahapan mengacu pada Petunjuk Teknis (Juknis) yang diterbitkan Bupati Mimika.
Menurutnya, mulai dari mekanisme penerimaan, pembagian kuota hingga kebijakan pendidikan gratis telah diatur secara jelas sehingga proses seleksi dapat berjalan transparan dan sesuai aturan.
“Semua proses penerimaan sudah diatur dalam juknis sehingga pelaksanaannya lebih tertib dan transparan,” ujarnya.
Nius mengimbau para orang tua agar tidak hanya berorientasi pada SMA Negeri 1 Mimika. Ia menilai kualitas pendidikan di sekolah-sekolah lain, baik negeri maupun swasta, juga cukup baik dan mampu memberikan layanan pendidikan yang kompetitif.
“Semua sekolah di Timika kualitasnya sama. Bahkan sekolah swasta juga banyak yang memiliki kualitas sangat baik. Jadi jangan hanya fokus di SMA Negeri 1,” katanya.
Ia menambahkan, sekolah swasta dapat menjadi alternatif bagi orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi lebih. Meski terdapat biaya pendidikan yang harus ditanggung, kualitas layanan pendidikan yang diberikan juga tidak kalah bersaing.
“Jangan karena sekolah negeri gratis, lalu semua berbondong-bondong ke sana. Sekolah swasta juga memiliki kualitas yang baik,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nius juga memastikan bahwa proses penerimaan murid baru tahun ini bebas dari praktik titipan maupun intervensi pihak tertentu.
“Tidak ada bekingan sama sekali. Jangan sampai ada orang tua yang berharap anaknya bisa diterima karena memiliki orang dalam. Semua mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku,” tegasnya.
Untuk menjaga ketertiban, pihak sekolah membuka tiga loket pendaftaran dan menerapkan aturan bahwa calon siswa wajib melakukan pendaftaran secara mandiri tanpa didampingi orang tua.
Akibatnya, para orang tua hanya dapat menunggu dan memantau dari luar pagar sekolah. Sebagian di antaranya terlihat membawa bekal makanan untuk anak-anak yang sedang mengikuti proses pendaftaran.
Salah seorang wali murid, Yusfina, mengaku sistem yang diterapkan tahun ini membuat suasana jauh lebih tertib dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya keributan terjadi karena keterlibatan orang tua. Sekarang kami hanya memantau dari luar pagar dan anak-anak yang masuk ke lingkungan sekolah. Jadi suasananya lebih tertib,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Mastiur Pasaribu yang sejak pagi mendampingi anaknya mengikuti proses pendaftaran. Ia mengapresiasi sistem seleksi yang dinilai lebih teratur dan memberikan kepastian bagi peserta.
Karena anaknya mendaftar melalui jalur zonasi, Mastiur berharap dapat lolos seleksi sehingga bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang diinginkan.
Berdasarkan informasi yang diumumkan pihak sekolah, hasil seleksi penerimaan murid baru SMA Negeri 1 Mimika Tahun Ajaran 2026/2027 akan diumumkan pada 30 Juni 2026. Dengan kuota yang terbatas dan tingginya minat masyarakat, persaingan untuk memperoleh kursi di sekolah tersebut dipastikan berlangsung ketat. (**)



































Discussion about this post