TIMIKA – jurnalpapua.id
Dalam rangka memperingati hari sengsara Yesus Kristus, Orang Muda Katolik (OMK) St. Stefanus Sempan Timika menggelar drama jalan salib hidup (Tablo), Jumat (03/04/2026).
Drama ini disaksikan oleh ratusan umat Katolik dengan pemuh khidmat, yang mengikuti kisah sengsara Yesus yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) St. Stefanus Sempan Timika.
Dalam tradisi Katolik, jalan salib terdiri dari 14 perhentian yang dimulai dari kisah Yesus dijatuhi hukuman mati hingga Yesus wafat dan dimakamkan. Umat berkumpul di pelataran Gedung Tongkonan, Jalan Samratulangi, lalu mengikuti seluruh rangkaian kisah hingga ke pelataran Gereja St. Stefanus Sempan Timika.
Setiap perhentian menghadirkan peristiwa yang menjadi bahan perenungan bagi umat, sekaligus mengajak untuk menggali lebih dalam makna dan tujuan penderitaan Yesus.
Perhentian kedelapan misalnya, para perempuan menangisi penderitaan Yesus. Ini menjadi salah satu peristiwa yang mengajak umat untuk tidak hanya meratapi penderitaan Yesus, tetapi juga bertobat dan menyadari dosa pribadi yang turut ambil bagian dalam penyaliban-Nya.
Di bawah terik, OMK berupaya maksimal memainkan peran masing-masing sesuai kisah dalam Kitab Suci, sehingga mampu menyentuh hati umat yang hadir.
Pater Gabriel Ngaa, OFM, mengatakan bahwa kisah sengsara yang diperankan OMK bukan sekadar tradisi, melainkan sarana untuk menumbuhkan kesadaran akan makna penderitaan Yesus. Kisah tersebut menjadi cermin cinta sejati, yakni pengorbanan diri demi keselamatan manusia.
“Kalau mereka membuat drama ini, mereka harus sadar akan maknanya. Sehingga di dalam hidupnya sehari-hari harus berani berkorban dan berani menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan demi sesuatu yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sikap berani dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membela hak-hak orang tertindas. Di tengah berbagai konflik yang terjadi di sejumlah daerah di Papua, umat ditantang untuk menjadi pembawa damai dan persatuan, bukan justru menambah perpecahan.
Kesadaran juga perlu diwujudkan dalam hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan dan lingkungan. Sesuai pesan Paus Fransiskus, manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.
“Sampah itu kita tahu bisa merusak lingkungan tetapi sekaligus merusak manusia yang tinggal di dalamnya. Kita harus berkorban bagaimana minimal punya kesadaran untuk tertib dalam hal sampah,” tambahnya.
Melalui drama Jalan Salib ini, nilai positif lain yang terlihat adalah kebersamaan. Proses persiapan yang tidak singkat menumbuhkan kesabaran, semangat berbagi, serta kemampuan berdiskusi satu sama lain.
“Tetapi kalau hanya drama tinggal drama, ada sampah berserakan, lalu besok mereka berkelahi, mungkin ini hanya latihan untuk bisa pukul orang. Mereka harus bisa meresapi makna dan semangat jalan salib,” pungkasnya. (**)



































Discussion about this post