TIMIKA, jurnalpapua.id
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika bersama Institut Jambatan Bulan (IJB) merumuskan Model Koperasi Penggerak Rantai Nilai Ekonomi Lokal untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat di wilayah terpencil Kabupaten Mimika.
Model tersebut menjadi salah satu hasil utama Kajian Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Koperasi di Wilayah Terpencil Kabupaten Mimika Tahun 2026 yang dipaparkan dalam seminar akhir di Aula Lantai III Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika, Jumat (2/10).
Seminar dibuka oleh Bupati Mimika yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Petrus Pali Amba, S.T., M.T. Kegiatan dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) serta kepala distrik atau perwakilan dari tiga wilayah yang menjadi lokasi kajian, yakni Distrik Jila, Agimuga dan Mimika Barat.
Petrus mengatakan, pembangunan ekonomi Mimika harus mampu menjangkau masyarakat di wilayah pesisir, pedalaman hingga pegunungan. Karakteristik wilayah terpencil, kata dia, memiliki tantangan berbeda dengan perkotaan, terutama dari sisi geografis, biaya transportasi, infrastruktur dan akses pasar.
“Model usaha yang dapat berjalan di perkotaan belum tentu sesuai untuk kampung yang akses transportasi dan pasarnya terbatas,” ujar Petrus saat membacakan sambutan Bupati Mimika.
Menurutnya, pengembangan ekonomi masyarakat harus disesuaikan dengan potensi dan kondisi masing-masing wilayah. Penentuan komoditas dan jenis usaha perlu mempertimbangkan kesinambungan produksi, biaya pengangkutan, kemampuan pengolahan hingga peluang pasar.
Pemerintah Kabupaten Mimika juga mendorong koperasi tidak hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar, tetapi berkembang menjadi lembaga yang mampu menghimpun produksi masyarakat, memenuhi kebutuhan usaha, mengatur pemasaran dan memperkuat posisi tawar anggota.
“Manfaat tersebut akan terasa apabila koperasi dikelola dengan jujur, terbuka, dan bertanggung jawab kepada anggotanya,” kata Petrus.
Petakan Potensi Tiga Distrik
Ketua Tim Peneliti IJB, Dr. Abu Bakar, S.E., M.Si., mengatakan kajian dilakukan dengan melihat kondisi koperasi, persoalan masyarakat, potensi ekonomi lokal serta peluang pengembangan usaha di Jila, Agimuga dan Mimika Barat.
Kajian menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, pengurus koperasi, pemerintah distrik dan kampung, tokoh masyarakat, tokoh adat, kelompok usaha serta perangkat daerah terkait.
Hasil kajian menunjukkan koperasi di wilayah terpencil masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain tata kelola kelembagaan, administrasi, kapasitas sumber daya manusia, permodalan, partisipasi anggota, transportasi dan akses pasar.
Di sisi lain, masing-masing wilayah memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Distrik Jila memiliki potensi kopi, buah merah, bawang merah, cabai, sayuran, peternakan, perikanan dan hasil hutan. Salah satu komoditas yang dinilai potensial dikembangkan melalui koperasi adalah kopi, dengan penguatan rantai nilai mulai dari pengumpulan hasil produksi, pascapanen, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran.
Distrik Agimuga memiliki potensi pertanian dan perkebunan seperti rica, kopi robusta, padi gogo, petatas, kacang tanah, durian, jeruk nipis, pisang dan jagung. Pengembangannya masih menghadapi kendala transportasi, pengolahan, penyimpanan, pemasaran, tenaga terampil dan akses informasi harga.
Sementara Distrik Mimika Barat memiliki potensi perikanan dan sagu. Komoditas perikanan antara lain kakap atau kerapu, cumi-cumi, udang tiger, udang banana dan kepiting bakau.
Koperasi Didorong Jadi Penggerak Rantai Nilai
Abu Bakar menjelaskan, model yang dirumuskan menempatkan koperasi sebagai penghubung berbagai tahapan kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari produksi hingga pasar.
Model tersebut mencakup penguatan kelembagaan koperasi, pengembangan unit usaha produktif, penguatan rantai nilai, pembiayaan dan akses modal, jaringan kemitraan, serta pendampingan dan monitoring.
“Penguatan koperasi harus dimulai dari kelembagaannya, kemudian dikembangkan unit usaha produktif yang sesuai dengan potensi dan kemampuan masyarakat, dan selanjutnya koperasi mengambil peran dalam menggerakkan rantai nilai ekonomi lokal,” jelas Abu Bakar.
Melalui model tersebut, koperasi diharapkan tidak hanya membantu masyarakat menjual hasil produksi dalam bentuk bahan mentah. Koperasi juga diarahkan mengambil peran dalam pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, transportasi dan pemasaran sehingga nilai tambah produk dapat dinikmati masyarakat.
Tim peneliti merekomendasikan Distrik Jila sebagai lokasi awal atau pilot project penerapan model. Tahap awal diarahkan pada konsolidasi jaringan koperasi, pengembangan komoditas unggulan, terutama kopi, serta penguatan sistem pengumpulan, pengolahan, logistik dan pemasaran.
Kajian juga menyusun roadmap implementasi selama tiga tahun. Tahap pertama difokuskan pada penguatan kelembagaan, tata kelola, sumber daya manusia, administrasi dan pemetaan potensi usaha.
Tahap kedua diarahkan pada pengembangan unit usaha produktif, agregasi produksi, pengolahan, penguatan logistik dan akses pasar. Selanjutnya, koperasi diarahkan memperluas kemitraan, memperkuat pembiayaan, meningkatkan nilai usaha dan membangun kemampuan pembiayaan secara mandiri.
Keberhasilan model akan diukur melalui sejumlah indikator, di antaranya peningkatan keaktifan anggota, transaksi anggota, kualitas administrasi dan pembukuan, pelaksanaan rapat anggota, volume produksi yang dihimpun koperasi, produk yang diolah, akses pasar, kemitraan, akses pembiayaan serta peningkatan manfaat ekonomi bagi anggota.
Seminar akhir tersebut menjadi forum untuk menyempurnakan hasil kajian sebelum diterjemahkan menjadi kebijakan dan program pemerintah daerah.
BRIDA Mimika diharapkan dapat menjadikan hasil kajian sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan berbasis riset dan inovasi, sementara IJB memberikan dukungan akademik melalui perumusan model, strategi implementasi, roadmap dan desain pilot project.
Implementasi model tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, koperasi, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha dan lembaga keuangan agar potensi ekonomi di wilayah terpencil dapat dikembangkan secara berkelanjutan.(**)








































Discussion about this post