TIMIKA, jurnalpapua.id
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Festival Seni Budaya, Pameran Kerajinan dan Kuliner 2026 di halaman eks Pasar Sentral, Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua Tengah, Senin (5/10/2026).
Festival yang berlangsung hingga 8 Oktober tersebut mengusung tema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro.” Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat pelestarian budaya Amungme dan Kamoro kepada generasi muda.
Beragam kekayaan budaya ditampilkan, mulai dari cerita rakyat, musik dan tarian tradisional, pakaian adat, seni ukir, anyaman hingga kuliner khas daerah.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika sekaligus Ketua Panitia, Daniel Orun, mengatakan festival tersebut tidak hanya dirancang sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Merawat cerita berarti menjaga sejarah lisan masyarakat Amungme dan Kamoro. Menghidupkan musik berarti mengaktualisasikan kembali lagu dan alat musik tradisional,” kata Daniel.
Festival melibatkan sekitar 30 sanggar seni, 12 sanggar dalam pameran kuliner dan kerajinan, 20 peserta fashion show, 20 peserta lomba cerita rakyat serta 18 peserta lomba musik akustik. Panitia menargetkan sekitar 2.000 pengunjung selama kegiatan berlangsung.
Libatkan Generasi Muda
Pelestarian budaya juga diarahkan kepada generasi muda. Sebanyak 29 sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK dilibatkan dalam berbagai kegiatan festival.
Sebelum tampil, para pelajar telah mengikuti pelatihan musik selama kurang lebih tiga bulan dengan menghadirkan tenaga pelatih dari Jayapura. Mereka kemudian tampil dan mengikuti perlombaan sebagai bagian dari rangkaian festival.
Pelaksana Tugas Kepala Disbudparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan keterlibatan anak muda penting agar perkembangan zaman tidak membuat generasi penerus kehilangan pengetahuan tentang identitas dan budaya daerah.
“Kami ingin anak-anak muda tidak melupakan budaya mereka,” ujarnya.
Selain pertunjukan seni, pemerintah juga tengah melakukan pendokumentasian cerita rakyat Amungme dan Kamoro dengan melibatkan tim ahli Kementerian Kebudayaan, ahli cagar budaya Papua Tengah, kepala suku, tokoh adat, pemuda dan masyarakat.
Salah satu cerita yang telah dihimpun adalah kisah Tete Mapuru, yang bahkan telah dibuat dalam bentuk film dokumenter meski belum diterbitkan.
Budaya Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi
Festival juga membuka ruang bagi pelaku seni dan ekonomi kreatif untuk memasarkan karya mereka. Sekitar 30 peserta menampilkan berbagai produk seperti ukiran, anyaman dan kuliner lokal.
Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, saat membuka festival mengatakan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi bagian penting dari identitas masyarakat Mimika yang harus terus diwariskan.
Menurutnya, Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro memiliki kekayaan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia menegaskan pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau tokoh adat, tetapi juga masyarakat, dunia pendidikan dan generasi muda.
Pemerintah Kabupaten Mimika berharap Festival Seni Budaya dapat berkembang menjadi agenda tahunan, sekaligus membuka peluang agar kegiatan tersebut semakin dikenal di tingkat nasional.
“Budaya harus terus hidup. Anak-anak muda harus mengenal budaya mereka sendiri, karena dari budaya itulah kita mengenal siapa diri kita,” kata Elisabeth.
Festival Seni Budaya Mimika diharapkan menjadi momentum untuk memastikan cerita leluhur, musik tradisional, seni, adat dan kearifan lokal Amungme-Kamoro tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang bersama generasi berikutnya.(**)









































Discussion about this post