TIMIKA, jurnalpapua.id
Pelaksanaan Festival Seni dan Budaya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika mendapat sorotan dari Anggota DPRK Mimika, Fredewina Matirani, SH.
Fredewina yang merupakan perwakilan perempuan Kamoro mengaku prihatin setelah melihat sejumlah warga Kamoro yang datang dari wilayah pesisir untuk turut memeriahkan festival justru harus tidur di emperan toko kawasan Pasar Lama Timika.
Ia mengatakan, warga tersebut telah tidur di depan ruko sejak 5 Oktober 2026. Kondisi itu dinilainya sangat memprihatinkan, terlebih kegiatan tersebut digelar dalam rangka perayaan 30 tahun Kabupaten Mimika.
“Secara pribadi saya minta maaf kepada penyelenggara kegiatan Festival Seni Budaya di lapangan Pasar Lama. Tetapi saya mau mengatakan, sebagai anak negeri perempuan Kamoro, saya malu melihat kondisi ini,” kata Fredewina.
Menurutnya, warga Kamoro yang berada di lokasi merupakan orang tua dan saudara mereka sendiri yang datang dari wilayah Pomako untuk turut mengambil bagian dalam perayaan Festival Seni dan Budaya.
Mereka sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil tangkapan seperti ikan, udang, siput dan hasil laut lainnya. Namun, ketika datang ke Timika untuk ikut meramaikan kegiatan budaya, mereka justru tidak mendapatkan tempat tinggal maupun kebutuhan dasar selama berada di kota.
“Orang tua kami, saudara-saudara kami, suku Kamoro, tidur di depan toko. Apakah penyelenggara tidak bisa menyiapkan penginapan untuk mereka?” ujarnya.
Fredewina juga menyayangkan karena warga tersebut disebut tidak mendapatkan makanan maupun minuman selama berada di lokasi.
“Ini sangat disayangkan. Di saat ulang tahun 30 tahun Kabupaten Mimika, pemilik negeri justru tidur di depan ruko dan tidak dikasih makan. Minum pun tidak ada. Apakah panitia tutup mata?” tegasnya.
Melihat kondisi tersebut, Fredewina kemudian mendatangi warga yang tidur di emperan toko dan memberikan bantuan secara pribadi.
Ia memberikan uang untuk membeli makanan, serta membelikan air minum, rokok dan pinang untuk warga tersebut.
“Saya tadi pergi memberikan mereka uang untuk membeli makanan karena mereka belum makan malam. Saya juga membeli air, rokok dan pinang untuk mereka. Mereka bisa saja pulang tapi mereka tidak ada ongkos, jadi mereka nginap,” ungkapnya.
Fredewina berharap kejadian tersebut menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah maupun panitia penyelenggara kegiatan. Menurutnya, pelaksanaan festival seni dan budaya seharusnya tidak hanya menampilkan kesenian dan budaya masyarakat asli Mimika, tetapi juga memberikan penghormatan serta perlindungan yang layak kepada masyarakat yang datang untuk berpartisipasi.
Ia menegaskan, masyarakat Kamoro yang datang dari Pomako bukan sekadar penonton, melainkan bagian penting dari identitas dan budaya Kabupaten Mimika.
“Mereka datang ke Timika bukan untuk meminta-minta. Mereka datang karena ingin ikut turut meramaikan acara Festival Seni dan Budaya. Mereka adalah masyarakat kita sendiri,” katanya.
Fredewina berharap ke depan tidak ada lagi masyarakat asli Mimika yang harus tidur di emperan toko dan kesulitan mendapatkan makanan ketika mengikuti kegiatan pemerintah maupun kegiatan budaya daerah.
“Jangan sampai masyarakat pemilik negeri hanya dijadikan bagian dari acara, tetapi ketika kegiatan selesai atau di luar panggung, mereka tidak diperhatikan. Ini harus menjadi evaluasi kita bersama,” pungkasnya.(**)








































Discussion about this post