TIMIKA, jurnalpapua.id
Suasana haru mewarnai perayaan hari ulang tahun (HUT) pertama Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika di Gedung Wita Agung, Jalan SP 2, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (17/10/2026). Sejumlah siswa tampak memeluk orang tua mereka setelah mengikuti rangkaian kegiatan yang menampilkan kemampuan dan hasil pembelajaran selama setahun.
Perayaan tersebut menjadi kesempatan bagi para orang tua untuk melihat perkembangan anak-anak mereka, mulai dari keberanian tampil di depan umum hingga kemampuan dalam bidang olahraga, seni, bahasa, dan kedisiplinan.
Dalam kegiatan itu, para siswa menampilkan keterampilan baris-berbaris, gerakan karate, pidato dalam bahasa Indonesia dan Inggris, pengenalan bahasa Kamoro, paduan suara, serta pembacaan puisi.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika, Ajeng Wulandari, S.Si., Gr., mengatakan sekolah tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Sekolah ini tidak hanya menjadi tempat anak-anak belajar, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, memulihkan kepercayaan diri, dan mempersiapkan mereka menjadi agen perubahan,” ujarnya.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika mulai beroperasi pada 10 Oktober 2025. Saat ini, sekolah tersebut memiliki 58 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar pada jenjang SMP kelas VII dan VIII serta SMA kelas XI dan XII.
Para siswa berasal dari sejumlah distrik di Kabupaten Mimika, antara lain Kuala Kencana, Mimika Baru, Wania, Mimika Timur, dan Mimika Barat Jauh. Sekolah ini menyasar anak-anak dari keluarga yang masuk kelompok desil 1 dan desil 2 berdasarkan kondisi sosial ekonomi.
Dalam penyelenggaraan pendidikan, sekolah menerapkan kurikulum nasional dengan pendekatan multi-entry, multi-exit, yang memungkinkan proses pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan dan kecepatan belajar siswa.
Penerimaan siswa tidak semata-mata didasarkan pada tes akademik, tetapi juga mempertimbangkan data sosial, latar belakang keluarga, serta kebutuhan pendampingan fisik dan psikologis.
Untuk mendukung kegiatan belajar, Gedung Wisma Atlet dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran, asrama, dan tempat tinggal sejumlah tenaga pendamping.
Lantai pertama digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar, lantai kedua menjadi asrama putri sekaligus tempat tinggal guru dan wali asuh putri, sedangkan lantai ketiga digunakan sebagai asrama putra dan tempat tinggal wali asrama putra.
Para siswa mendapatkan makanan bergizi, layanan kesehatan, perlengkapan belajar, laptop, serta pendampingan karakter selama 24 jam. Fasilitas pembelajaran juga didukung laboratorium bahasa yang dilengkapi komputer dan smartboard di setiap kelas.
Sekolah tersebut didukung 10 tenaga pendidik, empat wali asrama, 12 wali asuh, serta 13 tenaga pendukung yang terdiri atas juru masak, petugas kebersihan, dan petugas keamanan.
Selain mengikuti pembelajaran di kelas, para siswa didorong mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan dan perlombaan. Sejumlah siswa telah menorehkan prestasi di bidang olahraga dan seni, termasuk cabang atletik dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
Ada pula siswa yang terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat provinsi dan kabupaten.
Dalam sambutan melalui rekaman video, Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga rehabilitasi sosial untuk membangun karakter dan memulihkan kepercayaan diri anak-anak.
“Bukan hanya memberikan pendidikan, tetapi juga menghadirkan rehabilitasi sosial. Bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, memulihkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan harapan,” demikian pesan Gus Ipul.
Ia mengajak pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga untuk ikut mengenal serta mendukung kehidupan para siswa melalui kegiatan open house yang digelar serentak di 183 Sekolah Rakyat di Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mimika, Hasan Kemong, S.IP., yang mewakili Bupati Mimika, menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan berkualitas bagi keluarga yang membutuhkan.
Ia berpesan agar para siswa tidak merasa rendah diri karena latar belakang ekonomi keluarga. Setiap anak, katanya, memiliki kesempatan untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.
Di tengah perkembangan yang dicapai selama satu tahun, Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika masih membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Ajeng mengatakan kebutuhan tersebut meliputi penambahan tenaga pendidik, pendampingan psikolog dan konselor, kelengkapan fasilitas olahraga dan seni, serta dukungan keamanan.
Pemenuhan kebutuhan itu diharapkan dapat memperkuat proses pembelajaran dan pendampingan siswa agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, serta mampu mengembangkan potensi sesuai kemampuan masing-masing.
Perayaan HUT pertama Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.(**)



















































Discussion about this post