TIMIKA, jurnalpapua.id
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) menggelar Festival Seni Budaya Tahun 2026 di halaman Pasar Lama Mimika, Papua Tengah, Senin (5/10/2026).
Festival tersebut menghadirkan beragam kekayaan budaya lokal, mulai dari tarian, musik, cerita rakyat, seni ukir, anyaman hingga kuliner. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai dan melestarikan budaya daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudparekraf Kabupaten Mimika, Elisabet Cenawatin, SE, M.Si, mengatakan pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan agar identitas masyarakat Mimika tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kami ingin anak-anak muda tidak melupakan budaya mereka,” ujar Elisabet.
Menurut dia, salah satu fokus festival adalah menggali dan mendokumentasikan cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat. Dalam proses tersebut, Disbudparekraf melibatkan kepala suku, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda serta tim ahli dari Kementerian Kebudayaan dan pemerintah provinsi.
Salah satu cerita rakyat yang telah berhasil dihimpun adalah Katemapura. Cerita tersebut bahkan telah dibuat dalam bentuk film dokumenter, meski hingga kini belum diterbitkan.
“Cerita tentang Katemapura sudah kami punya dan sudah ada film dokumenternya. Hanya saja belum kami terbitkan,” kata Elisabet.
Libatkan 29 Sekolah
Festival juga melibatkan generasi muda melalui kegiatan seni dan budaya. Sebanyak 29 sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK mengikuti rangkaian kegiatan setelah para siswa mendapatkan pelatihan musik selama kurang lebih tiga bulan dengan menghadirkan narasumber dari Jayapura.
Para pelajar kemudian tampil dan mengikuti perlombaan antarsekolah. Selain musik, mereka juga mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan presentasi adat, pakaian budaya serta cerita rakyat.
Di sisi lain, sekitar 30 pelaku seni dan budaya turut menampilkan berbagai potensi lokal, termasuk seni ukir, anyaman, tari dan kuliner.
Elisabet mengatakan kehidupan masyarakat pegunungan dan masyarakat Kamoro di wilayah pesisir menjadi bagian penting yang diangkat dalam festival.
“Intinya bagaimana kehidupan masyarakat di pegunungan dan bagaimana kehidupan orang Kamoro di pesisir. Itu yang kami coba angkat melalui cerita dan penampilan anak-anak,” ujarnya.
Ditargetkan Jadi Agenda Tahunan
Melihat antusiasme peserta dan masyarakat, Pemkab Mimika berencana menjadikan Festival Seni Budaya sebagai agenda tahunan.
Disbudparekraf juga berupaya agar festival tersebut dapat masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga budaya Mimika memiliki peluang lebih besar untuk dikenal di tingkat nasional.
Salah satu agenda yang mulai dipersiapkan untuk tahun depan adalah Festival Kamoro Kuru.
Tak hanya berhenti di tingkat lokal, sejumlah sanggar seni Mimika juga mulai mendapat kesempatan memperkenalkan budaya daerah ke luar negeri. Salah satu sanggar dari Distrik Iwaka dijadwalkan membawa seni tradisional Kamoro, khususnya ukiran dan kerajinan, ke Belanda, Swiss dan Jerman pada akhir November 2026.
Pemerintah daerah juga telah membangun sejumlah sanggar sebagai wadah bagi seniman dan pengrajin untuk berkarya sekaligus mempromosikan produk budaya lokal.
Melalui festival dan penguatan sanggar tersebut, Disbudparekraf berharap budaya Amungme dan Kamoro tetap hidup, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda, seniman, pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang.
“Budaya harus terus hidup. Anak-anak muda harus mengenal budaya mereka sendiri, karena dari budaya itulah kita mengenal siapa diri kita,” pungkas Elisabet. (**)









































Discussion about this post