TIMIKA – jurnalpapua.id
Pastor Amandus bersama Kodim 1710/Mimika mengklarifikasi isu intimidasi di Keuskupan Timika yang sedang beredar luas di sosial media dan sepakat bahwa itu adalah hoax.
Di Gedung Bobaigo Keuskupan Timika, Rabu (29/4/2026), Pastor Amandus didampingi Pastor Rekan, P. Beni Magai Pr. dan Frater Anton Tebai bertemu dengan perwakilan Kodim 1710/Mimika yang dipimpin langsung oleh Kasdim, Mayor Inf. Abdul Munir.
Dalam kesempatan itu, Pastor Amandus meluruskan kesalahan informasi yang sedang berkembang pesat diluaran sana.
“Dalam kesempatan ini, saya Pastor Amandus dan Pastor Benny Magay ingin meluruskan berita ini, agar tidak lagi terjadi simpang siur informasi yang mengganggu ketentraman banyak orang,” katanya.
Lanjut dijelaskan, bahwa yang datang ke Pastoran pada hari Senin tanggal 27 April 2026 adalah rombongan yang dipimpin oleh Kasdim 1710/Mimika.
“Mereka datang atas perintah Pangdam kepada Dandim. Tapi karena Dandim lagi ke Jakarta maka Kasdim yang mewakili. Dan yang menerima rombongan saya sendiri selaku Pastor Paroki dan RD Benny Magai selalu Pastor Rekan,” ujarnya.
Menurutnya, informasi ini yang menjadi poin penting dari kunjungan itu. Dijelaskan, bahwakedatangan Kasdim dan rekan-rekan ke Keuskupan Timika ingin bertanya, bukan menginterogasi.
“Mereka bukan datang interogasi kami di Keuskupan, tapi bertanya apakah prajurit yang datang itu bepakaian sipil atau berpakaian dinas militer/loreng. Dan kami jawab berpakaian loreng,” terangnya.
Sementara itu, Kasdim 1710/Mimika, Mayor Inf. Abdul Munir menjelaskan bahwa isu dugaan intimidasi dan tindakan tidak pantas di lingkungan gereja yang sempat beredar di media sosial adalah tidak benar.
Mayor Abdul Munir menjelaskan bahwa pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan khidmat itu menjadi momentum penting untuk meluruskan informasi yang berkembang di publik.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Uskup dan jajaran gereja yang telah menerima pihak TNI dengan terbuka, termasuk menerima permohonan maaf atas insiden yang terjadi sebelumnya.
“Kami berterima kasih karena pihak gereja menerima kami dengan baik dan penuh pengertian. Permohonan maaf kami juga telah diterima secara terbuka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tudingan adanya tindakan mengacak-acak maupun intimidasi terhadap pihak gereja merupakan hoaks. Klarifikasi tersebut, kata dia, telah dikonfirmasi langsung oleh pihak pastor setempat.
“Kami sudah melakukan klarifikasi dan investigasi internal. Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan dari pastor, isu yang beredar itu tidak benar,” tegasnya.
Hasil investigasi internal menunjukkan bahwa insiden yang terjadi dipicu oleh kesalahpahaman di lapangan. Disebutkan, terdapat anggota yang bertindak di luar prosedur akibat miskomunikasi dan sikap berlebihan dalam menjalankan tugas pengamanan.
“Ini murni karena miskomunikasi dan kesalahan prosedur. Ada anggota yang terlalu bersemangat sehingga bertindak di luar ketentuan yang seharusnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, TNI pada prinsipnya menjunjung tinggi dan menghormati tempat ibadah serta aktivitas keagamaan. Oleh karena itu, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh anggota akan tetap ditindak sesuai aturan yang berlaku.
“Pimpinan memastikan setiap kesalahan akan ditindak, baik melalui pembinaan maupun sanksi disiplin, agar ke depan anggota lebih profesional dalam bertugas,” katanya.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, serta tetap menjaga situasi keamanan dan kerukunan anta rumat beragama di Kabupaten Mimika.(**)





































Discussion about this post