TIMIKA – jurnalpapua.id
Timika Inside Festival of Art (TIFA) ke-VI Tahun 2026 resmi dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, di pelataran Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (2/7/2026). Festival seni dan budaya tahunan ini berlangsung selama tiga hari, 2–4 Juli 2026, dengan menghadirkan berbagai inovasi yang melibatkan pelaku seni, UMKM, hingga perwakilan budaya dari sejumlah kabupaten di Papua.
Mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob, Fransiskus Bokeyau mengatakan TIFA bukan sekadar panggung pertunjukan seni, tetapi telah berkembang menjadi ruang memperkuat persatuan, melestarikan budaya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Mimika.
Mengusung tema “Bernada dalam Gerak, Menebus Irama dan Mengukir Prestasi”, TIFA 2026 diharapkan mampu menjadi wadah lahirnya kreativitas, prestasi, dan kolaborasi antarpelaku seni serta budaya.
“Tema tersebut mengandung makna bahwa seni memiliki peran penting sebagai perekat persatuan, pelestari budaya, sekaligus ruang untuk melahirkan kreativitas dan prestasi,” kata Fransiskus dalam sambutannya.
Ia mengapresiasi TIFA Creative, panitia, relawan, sponsor, komunitas seni, pelaku budaya, dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan penyelenggaraan festival yang kini memasuki tahun keenam sejak pertama kali digelar pada 2019.
Menurutnya, Mimika memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, seni tari, musik tradisional, kerajinan tangan hingga berbagai kearifan lokal yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“TIFA telah menjadi etalase budaya Mimika sekaligus ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada publik yang lebih luas,” ujarnya.
Fransiskus juga menilai penyelenggaraan festival akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran peserta dan pengunjung dari berbagai daerah diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pengrajin, kuliner, jasa transportasi hingga sektor perhotelan.
Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen terus mendukung kegiatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif karena pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga penguatan karakter, identitas budaya, dan kualitas sumber daya manusia.
Kepada para peserta festival, ia mengajak untuk menampilkan karya terbaik dengan menjunjung tinggi sportivitas, kreativitas, dan semangat persaudaraan.
“Jadikan festival ini sebagai ajang saling belajar, bertukar pengalaman, serta memperkuat jaringan antar pelaku seni dan budaya,” pesannya.
Hadirkan Banyak Terobosan
Sementara itu, Founder TIFA, Alfo Smith Kutanggas, mengatakan TIFA 2026 hadir dengan konsep yang lebih kaya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, salah satu terobosan utama tahun ini adalah pelibatan sektor UMKM dan pameran budaya yang menghadirkan perwakilan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dari sejumlah kabupaten di Papua. Masing-masing daerah menampilkan produk kerajinan dan kekhasan budaya sehingga memperlihatkan keberagaman budaya Papua dalam satu festival.
“Tahun ini memang sedikit berbeda. Kami tidak hanya menghadirkan perlombaan seni, tetapi juga melibatkan UMKM agar dampak ekonomi dari festival ini bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Sebanyak 137 peserta mengikuti berbagai cabang perlombaan yang digelar selama festival berlangsung.
Tampilkan Seni, Fashion, dan UMKM
Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhkan berbagai penampilan tari kreasi dan tari Nusantara dari sanggar-sanggar seni. Penampilan mereka akan dinilai oleh dewan juri profesional yang didatangkan dari Jayapura, Bali, dan Jakarta.
Selain itu, TIFA 2026 juga menghadirkan Papua Family Fashion Show yang menampilkan karya busana bernuansa budaya Papua dari peserta berbagai kelompok usia.
Festival semakin semarak dengan pameran UMKM yang diikuti sekitar 30 pelaku usaha, baik dari Kabupaten Mimika maupun daerah lain seperti Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Puncak. Beragam produk kerajinan, kuliner, hingga hasil ekonomi kreatif dipamerkan kepada masyarakat.
Melalui berbagai inovasi tersebut, panitia berharap TIFA tidak hanya menjadi festival seni tahunan, tetapi juga menjadi ruang promosi budaya Papua, penguatan ekonomi kreatif, sekaligus destinasi wisata budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.(**)






































Discussion about this post