MAPURUJAYA, jurnalpapua.id
Peringatan HUT ke-50 Mapurujaya memiliki makna yang sangat personal bagi Hj. Rampeani Rachman. Bagi anggota DPRK Mimika sekaligus Koordinator HUT Emas Mapurujaya itu, usia setengah abad Mapurujaya bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum untuk mengenang tempat ia tumbuh, belajar, dan kemudian kembali mengabdi kepada masyarakat.
Rasa memiliki terhadap Mapurujaya itulah yang mendorong Rampeani ikut mengambil bagian besar dalam menyukseskan rangkaian perayaan HUT ke-50 tahun ini.
Ia bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk mendukung berbagai kegiatan yang dikemas meriah, termasuk Karnaval Nusantara dan Profesi serta rangkaian acara menuju Pesta Rakyat yang akan digelar pada 22 Agustus 2026.
Bagi Rampeani, pengorbanan tersebut bukan semata-mata soal biaya. Ada keinginan untuk menghadirkan kebahagiaan dan hiburan bagi masyarakat Mapurujaya, khususnya warga Distrik Mimika Timur, sekaligus meninggalkan sebuah kenangan positif dalam perayaan usia emas daerah tersebut.
“Sebagai orang yang dipercayakan masyarakat Dapil 6, saya harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi serta menyentuh masyarakat dengan hal-hal positif seperti ini,” kata Rampeani.
Mapurujaya memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidupnya. Ia menghabiskan masa kecil hingga pendidikan di Mapurujaya bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali mengabdikan diri bagi Kabupaten Mimika.
Karena itu, ketika Mapurujaya memasuki usia 50 tahun, Rampeani merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memberikan sesuatu yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Di usia 50 tahun ini kita harus memberikan inspirasi positif dan edukasi positif kepada generasi penerus. Merekalah nantinya yang akan meneruskan pembangunan Mapurujaya,” ujarnya.
Menurutnya, perayaan HUT ke-50 harus menjadi pesta milik masyarakat. Bukan hanya seremoni pemerintahan, tetapi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersuka cita, dan menikmati hiburan setelah menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.
Karena itu, rangkaian kegiatan sengaja dikemas dengan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, terutama anak-anak dan pelajar.
Karnaval Nusantara dan Profesi menjadi salah satu kegiatan yang mendapat perhatian khusus. Pelajar dari jenjang TK hingga perguruan tinggi diajak mengambil bagian, sehingga perayaan HUT Mapurujaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga pengalaman dan inspirasi bagi generasi muda.
Rampeani ingin anak-anak Mapurujaya memiliki kenangan bahwa ketika mereka dewasa nanti, pernah ada sebuah perayaan besar yang menyatukan masyarakat di kampung halaman mereka.
“Memori mereka masih segar. Saya berharap kegiatan seperti ini menjadi bagian dari inspirasi dan motivasi mereka ke depan,” katanya.
Di sisi lain, Rampeani juga melihat kegiatan positif sebagai salah satu cara untuk menjaga generasi muda dari berbagai pengaruh negatif. Menurutnya, anak-anak harus diberikan ruang untuk berkarya, bermain, belajar, dan menikmati kegiatan yang membangun.
Ia berharap HUT ke-50 Mapurujaya menjadi momentum untuk meninggalkan catatan positif bagi generasi berikutnya.
“Kalau kita tidak membuat hal-hal positif seperti ini, mereka akan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bisa menghancurkan generasi penerus dan masa depan,” ujarnya.
Bagi Rampeani, apa yang dilakukan tahun ini merupakan bentuk kecintaan kepada Mapurujaya. Ia ingin masyarakat tidak hanya mengingat angka 50 tahun, tetapi juga mengingat bahwa usia emas tersebut dirayakan dengan kebersamaan, kegembiraan dan kepedulian terhadap generasi penerus.
Puncak perayaan HUT Emas Mapurujaya akan digelar melalui Pesta Rakyat pada 22 Agustus 2026. Rampeani berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi seluruh masyarakat untuk berkumpul dan merayakan perjalanan panjang Mapurujaya bersama-sama.
“Syukur kepada Tuhan karena saya diberikan kemampuan dan kesehatan untuk terus melayani warga Dapil 6, khususnya masyarakat Mimika Timur, dalam merayakan HUT Emas Mapurujaya ke-50,” tuturnya.
Bagi Rampeani, merogoh kocek pribadi untuk menghadirkan kemeriahan HUT Mapurujaya bukanlah beban, melainkan bagian dari pengabdian. Sebab, baginya, ada kebahagiaan tersendiri ketika masyarakat di tempat ia tumbuh dapat menikmati sebuah perayaan besar yang menjadi kenangan bersama.(**)






































Discussion about this post