TIMIKA, jurnalpapua.id
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar orientasi tenaga kesehatan dalam integrasi layanan AIDS/HIV, Tuberkulosis (TB), Malaria, dan Hepatitis (ATMH) untuk memperkuat implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di Kabupaten Mimika.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison Ultima Timika selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 29-31 Oktober ini melibatkan tenaga kesehatan dari sejumlah puskesmas. Orientasi tersebut menghadirkan enam narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.
Technical Officer RSSH Kementerian Kesehatan yang didukung pendanaan Global Fund, Osto Avian Antonius, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan sistem kesehatan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya tenaga kesehatan di tingkat pelayanan dasar.
Ia menjelaskan, selama ini pelayanan HIV/AIDS, TB, malaria, dan hepatitis cenderung berjalan berdasarkan program penyakit masing-masing. Melalui integrasi ATMH, pelayanan tersebut diharapkan dapat disatukan dalam sistem pelayanan kesehatan primer agar lebih efektif dan mudah diakses masyarakat.
“Melalui program ini, kita mengintegrasikan layanan yang sebelumnya masih berjalan berdasarkan masing-masing penyakit, sehingga nantinya bisa diterapkan di puskesmas hingga Puskesmas Pembantu (Pustu),” jelasnya.
Menurut Osto, kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinkes Mimika dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan pendanaan hibah dari Global Fund. Pelaksanaannya dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan sebagai instansi yang bertanggung jawab terhadap penentuan lokasi dan pelaksanaan program di daerah.
Dalam implementasi program tersebut, Puskesmas Wania ditetapkan oleh Dinkes Mimika sebagai lokasi percontohan atau lokus integrasi layanan ATMH. Model pelayanan yang diterapkan nantinya diharapkan dapat menjadi acuan bagi puskesmas lain di wilayah pendampingan.
Orientasi ini dilaksanakan dalam dua angkatan. Pada angkatan pertama, peserta berasal dari Puskesmas Wania, Timika, Timika Jaya, dan Pasar Sentral.
Sementara itu, angkatan kedua melibatkan Puskesmas Karang Senang, Limau Asri, Mapurujaya, Ayuka, dan Bintuka. Peserta terdiri atas kepala puskesmas serta penanggung jawab klaster dari masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan.
Osto berharap, setelah mengikuti orientasi, para kepala puskesmas dan penanggung jawab klaster dapat menyosialisasikan materi kepada seluruh petugas kesehatan di puskesmas maupun Pustu di wilayah kerja masing-masing.
Selain itu, setiap puskesmas diharapkan melengkapi dan menyesuaikan standar operasional prosedur (SOP) agar pelayanan HIV/AIDS, TB, malaria, dan hepatitis dapat dilaksanakan secara terintegrasi.
“Setelah pelatihan ini, peserta diharapkan segera menyosialisasikan dan mengimplementasikan pelayanan terintegrasi di puskesmas maupun Pustu. Puskesmas juga perlu melakukan evaluasi untuk memastikan pelaksanaannya berjalan dengan baik,” ujarnya.
Integrasi layanan ATMH ini bertujuan meningkatkan penemuan kasus secara dini, memastikan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan berdasarkan siklus hidup, serta mengoptimalkan kunjungan layanan kader dan kunjungan rumah melalui penguatan pemantauan wilayah setempat.
Selain itu, integrasi diharapkan mampu menyederhanakan alur pelayanan dan meningkatkan efisiensi melalui sistem klaster, sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih terpadu, mulai dari upaya promotif dan preventif hingga kuratif dan rehabilitatif.
Melalui program ini, Dinkes Mimika diharapkan dapat memperkuat kualitas pelayanan kesehatan primer sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan HIV/AIDS, TB, malaria, dan hepatitis secara lebih terkoordinasi di Kabupaten Mimika.(**)
























































Discussion about this post