TIMIKA – jurnalpapua.id
Perekonomian Kabupaten Mimika mengalami tekanan cukup berat dengan pertumbuhan ekonomi yang tercatat minus 11,33 persen. Kontraksi tersebut dipicu oleh menurunnya aktivitas sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah, khususnya produksi PT Freeport Indonesia.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika, Dian Sudarmanto KS, SST, MM, mengatakan struktur ekonomi Mimika masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang lebih dari 80 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Ketika sektor pertambangan mengalami penurunan, dampaknya langsung terasa terhadap keseluruhan perekonomian daerah karena kontribusinya sangat dominan,” ujar Dian didampingi Statistisi BPS Mimika, M. Reza Rahma, saat ditemui di kantornya, Senin (22/6/2026).
Menurut Dian, perlambatan produksi tambang tidak hanya memengaruhi nilai output sektor tersebut, tetapi juga berdampak pada sektor-sektor lain yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas pertambangan. Sektor konstruksi, perdagangan, hingga konsumsi rumah tangga ikut merasakan dampaknya akibat berkurangnya perputaran ekonomi.
Data yang dihimpun BPS menunjukkan adanya penurunan signifikan produksi emas PT Freeport Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2025. Produksi emas tercatat turun dari sekitar 284 ribu ons menjadi hanya sekitar 92 ribu ons dibandingkan periode yang sama sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut dinilai sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan ekonomi di Mimika. Berkurangnya aktivitas produksi juga berdampak pada pendapatan pekerja dan kontraktor yang selama ini bergantung pada sektor pertambangan.
Meski demikian, sejumlah sektor ekonomi non-tambang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Sektor pertanian tumbuh sekitar 1,32 persen, sementara industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, serta perdagangan besar dan eceran juga menunjukkan kinerja yang relatif baik secara tahunan.
Namun pertumbuhan sektor-sektor tersebut belum cukup kuat untuk menahan dampak kontraksi yang terjadi di sektor pertambangan dan penggalian.
Dian menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi gambaran nyata betapa besarnya pengaruh sektor tambang terhadap denyut ekonomi Mimika. Oleh karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi tantangan penting yang perlu terus didorong agar ketahanan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada satu sektor utama.
Terkait sektor konstruksi, ia menyebutkan proyek-proyek pemerintah tetap berjalan, namun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah masih terbatas.
“Kontribusi sektor konstruksi hanya sekitar lima persen. Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan sektor pertambangan yang menjadi penggerak utama ekonomi Mimika,” katanya.
Sementara itu, dari sisi ketenagakerjaan, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Mimika pada Juni 2026 berada di angka 6,75 persen. Angka tersebut menggambarkan masih adanya penduduk usia kerja yang aktif mencari pekerjaan namun belum terserap oleh pasar tenaga kerja.
Kondisi ekonomi yang mengalami kontraksi ini diperkirakan turut memengaruhi berbagai indikator lainnya, mulai dari daya beli masyarakat, pola konsumsi rumah tangga, hingga berbagai kebijakan ekonomi daerah ke depan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat sektor-sektor non-tambang sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap industri pertambangan dan menciptakan struktur ekonomi yang lebih berkelanjutan.(**)



































Discussion about this post