TIMIKA, jurnalpapua.id
Jenazah Jorianus Yolemal, korban konflik sosial antara kelompok Newegalem/Niwigalen dan Dang di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, dikremasi pada Minggu (27/9/2026).
Prosesi kremasi berlangsung di tengah situasi yang sempat memanas akibat provokasi dari kedua kelompok. Aparat kepolisian kini meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya informasi mengenai kemungkinan aksi serangan balasan pada Senin (28/9/2026).
Berdasarkan laporan lapangan, sekitar pukul 10.57 WIT, personel Polsek Kwamki Narama menjemput jenazah di perempatan Jalan Waanal. Jenazah sebelumnya dikawal personel Polsek Kuala Kencana dari RSMM Karitas.
Jenazah kemudian dibawa menuju lokasi kelompok Niwigalen dan tiba sekitar pukul 11.03 WIT. Warga selanjutnya menyiapkan tungku untuk prosesi kremasi.
Pada saat persiapan berlangsung, kelompok Niwigalen juga menyampaikan nama almarhum kepada kelompok Dang.
Sekitar pukul 11.15 WIT, jenazah mulai dikremasi. Namun selama proses kremasi berlangsung, terjadi saling provokasi antara kedua kelompok.
Situasi semakin memanas sekitar pukul 11.42 WIT sehingga personel Polsek Kwamki Narama bersama petugas RSMM Karitas memutuskan keluar dari lokasi.
Selanjutnya pada pukul 13.04 WIT, Kabag Ops mendatangi Mapolsek Kwamki Narama untuk mengecek perkembangan situasi pascakremasi Jorianus Yolemal.
Dari informasi yang dihimpun aparat di lapangan, sebelum meninggal korban diduga dihubungi seorang perempuan melalui media sosial dan diarahkan untuk bertemu di kawasan SP3.
Ketika korban tiba di lokasi pertemuan, korban disebut kemudian dibunuh. Namun identitas perempuan tersebut maupun pihak yang diduga melakukan pembunuhan belum disampaikan secara rinci dan masih memerlukan pendalaman aparat kepolisian.
Konflik sosial di Kampung Amole hingga kini telah menewaskan 27 orang. Sebanyak 13 korban berasal dari kelompok Niwigalen/Newegalem, sementara 14 korban berasal dari kelompok Dang.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh aparat dari kelompok Niwigalen, tidak ada rencana pembalasan pada Minggu. Namun terdapat informasi mengenai rencana serangan balik pada Senin, 28 September 2026.
Informasi tersebut belum dapat dipastikan pelaksanaannya. Aparat keamanan pun mempersiapkan personel untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan atau aksi saling serang antara kedua kelompok.
Hingga Minggu sore, situasi pascaprosesi kremasi dilaporkan aman dan terkendali. Aparat tetap melakukan pemantauan untuk mencegah konflik kembali pecah dan menambah jumlah korban.(**)








































Discussion about this post