TIMIKA, jurnalpapua.id
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan pada ibu hamil, persalinan, dan bayi baru lahir melalui pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
Pelatihan yang berlangsung di Hotel Horison Diana, Timika, Senin (28/9/2026), melibatkan dokter, bidan dan perawat dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Mimika. Kegiatan tersebut dibuka Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Linus Dumatubun.
Peserta berasal dari sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RS Waa Banti, Klinik Pemda Wangirja, Klinik Pemda Utikini, serta Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).
Pelatihan PONEK menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan tenaga medis menghadapi kondisi kegawatdaruratan yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun bayi.
Sejumlah kondisi yang membutuhkan penanganan cepat di antaranya perdarahan hebat, hipertensi dalam kehamilan termasuk preeklamsia dan eklamsia, infeksi serta berbagai komplikasi persalinan. Sementara pada bayi baru lahir, kondisi seperti asfiksia dan prematuritas juga membutuhkan respons medis segera.
Linus mengatakan, kegawatdaruratan obstetri dan neonatal membutuhkan penanganan yang cepat, tepat dan terintegrasi. Karena itu, tenaga kesehatan yang berada di fasilitas pelayanan maupun rujukan harus memiliki kemampuan yang memadai.
“Kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal membutuhkan respons yang cepat, tepat, dan terintegrasi. Karena itu, tenaga kesehatan harus memiliki kompetensi yang memadai dalam memberikan pelayanan,” kata Linus.
Menurutnya, keberhasilan menyelamatkan ibu dan bayi tidak hanya bergantung pada kemampuan seorang tenaga medis. Penanganan juga membutuhkan kerja sama tim, kesiapan fasilitas dan peralatan kesehatan, serta sistem rujukan yang berjalan dengan baik.
“Pelayanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu. Dibutuhkan kerja tim yang solid, koordinasi yang baik, dan sistem rujukan yang berjalan efektif,” ujarnya.
Melalui peningkatan kapasitas tersebut, Dinas Kesehatan Mimika mendorong fasilitas kesehatan rujukan memiliki kesiapan memberikan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal selama 24 jam.
Penguatan layanan PONEK diharapkan dapat mempercepat penanganan komplikasi sejak pasien tiba di fasilitas kesehatan hingga proses rujukan, sehingga risiko keterlambatan pertolongan terhadap ibu maupun bayi dapat ditekan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui peningkatan kualitas serta kesiapsiagaan pelayanan kesehatan.










































Discussion about this post