TIMIKA, jurnalpapua.id
Dampak musim kemarau mulai terasa di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Warga di Distrik Amar mulai kesulitan mendapatkan air bersih hingga harus mengambil pasokan dari Kokonao, Distrik Mimika Barat.
Krisis air tidak hanya dirasakan masyarakat. Personel kepolisian dan TNI yang bertugas di Amar juga harus mencari air hingga Kokonao untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kapolsek Mimika Barat Iptu Iqda Muhammad Yani mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kekeringan telah berdampak nyata di wilayah pesisir Mimika.
“Rekan-rekan saya yang ada di Amar, termasuk anggota saya dan anggota Koramil, mengambil air di Kokonao untuk air mandi. Artinya, sudah ada dampaknya,” kata Iqda kepada wartawan di Timika, Senin (24/8/2026).
Menurut Iqda, kesulitan mendapatkan air mulai terlihat setelah rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus lalu.
Ia meminta masyarakat mulai memperhatikan keberadaan sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan. Mata air yang tersedia, kata dia, perlu dijaga untuk memenuhi kebutuhan warga selama kemarau berlangsung.
“Saya sampaikan kepada masyarakat agar mencari mata air yang bisa digunakan untuk kebutuhan hidup masyarakat,” ujarnya.
Debit Kali di Kapiraya Menyusut
Kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat di Kapiraya. Iqda mengatakan telah meminta personelnya mengecek kondisi sejumlah mata air di wilayah tersebut.
“Memang sudah beberapa minggu ini dampaknya sudah ada di wilayah pesisir. Saya arahkan anggota yang ada di Kapiraya untuk melihat apakah mata air itu masih ada atau tidak,” katanya.
Selain mata air, debit sejumlah kali di Kapiraya mulai menyusut. Perubahan juga terjadi pada suhu air dan kondisi kolam-kolam ikan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
“Air kali juga sudah menipis di Kapiraya. Suhu airnya berbeda dibanding sebelumnya. Ada dampak kemaraunya,” ujar Iqda.
Kondisi tersebut, menurut dia, mulai terlihat pada kolam ikan warga yang debit airnya ikut berkurang.
Meski kekeringan terjadi di sejumlah wilayah pesisir, Iqda menyebut kondisi di Amar paling terasa. Aparat yang sampai harus mengambil air ke Kokonao dinilainya menjadi gambaran nyata keterbatasan sumber air di wilayah tersebut.
“Yang lebih utama adalah Amar. Anggota saya sampai harus datang mengambil air. Itu bukti nyata bahwa dampak kemarau sudah berjalan di wilayah pesisir,” katanya.
Warga Andalkan Tampungan Air Hujan
Sementara itu, sebagian warga Kokonao masih mengandalkan air hujan yang sebelumnya ditampung di bak maupun kolam.
Persediaan tersebut kini tidak hanya digunakan pemiliknya. Sejumlah warga yang membutuhkan air juga mulai mendatangi tempat-tempat penampungan.
“Untuk orang-orang tertentu ada yang datang meminta air dari kolam kami. Kolam itu menampung air hujan,” kata Iqda.
Ia meminta masyarakat menggunakan persediaan air secara hemat. Warga yang memiliki cadangan air juga diharapkan dapat berbagi apabila persediaannya memungkinkan.
Menurunnya debit kali, berkurangnya air pada kolam warga, hingga kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari menunjukkan dampak kemarau mulai meluas di pesisir Mimika.
Kondisi di Amar menjadi yang paling mencolok: untuk sekadar memperoleh air, warga dan aparat kini harus mencarinya hingga ke wilayah Kokonao.(**)








































Discussion about this post