TIMIKA, jurnalpapua.id
Kasus malaria di wilayah kerja Puskesmas Mapurujaya, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, masih tergolong tinggi. Berdasarkan data terbaru, jumlah kasus malaria tercatat hampir mencapai 300 kasus setiap bulan.
Selain malaria, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi salah satu penyakit yang banyak ditangani Puskesmas Mapurujaya, dengan rata-rata sekitar 100 kasus per bulan.
Kepala Puskesmas Mapurujaya, Onna Bunga, mengatakan malaria dan ISPA menjadi dua penyakit yang hingga kini masih mendominasi pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.
“Angka malaria yang terakhir sekitar hampir 300-an per bulan. Memang masih tinggi karena situasi lingkungan, kemudian air bersih yang tidak ada sehingga masyarakat masih menggunakan air dari kali di belakang rumah,” ujar Onna.
Menurutnya, sejumlah faktor lingkungan menjadi perhatian dalam upaya menekan kasus malaria, di antaranya kondisi sanitasi, keterbatasan akses air bersih serta lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Menghadapi tingginya kasus tersebut, Puskesmas Mapurujaya tidak hanya mengandalkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Petugas secara rutin turun langsung ke kampung-kampung untuk melakukan pemeriksaan, pengobatan serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
Pelayanan tersebut dilakukan dengan sistem door to door, yakni mendatangi rumah-rumah warga. Jadwal kunjungan juga disesuaikan dengan aktivitas masyarakat yang umumnya bekerja atau mencari nafkah sejak pagi hingga siang hari.
Selain malaria, Puskesmas Mapurujaya juga memberikan perhatian terhadap kasus ISPA yang rata-rata mencapai sekitar 100 kasus setiap bulan.
Onna menjelaskan, perubahan cuaca, kabut, paparan asap rokok hingga kebiasaan sebagian masyarakat menggunakan tungku di dalam rumah menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
“Kalau ISPA, cuaca juga menjadi salah satu penyebab. Apalagi dengan kondisi panas dan kabut, sementara masyarakat kita masih jarang menggunakan masker,” katanya.
Puskesmas, lanjut Onna, terus meningkatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan, mengurangi paparan asap serta menerapkan perilaku hidup yang dapat membantu mencegah penyakit.
Ia mengakui perubahan kebiasaan masyarakat membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Karena itu, penyuluhan kesehatan terus dilakukan secara berulang dan berkelanjutan.
“Kami selalu memberikan edukasi secara berulang-ulang. Perubahan kebiasaan masyarakat memang tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan kami terus memberikan pemahaman,” pungkasnya. (**)




































Discussion about this post