YAHUKIMO, jurnalpapua.id
Pasukan Detasemen 3 Satgas Rajawali V bersama Satgas Yonif 3 Marinir Koops TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III terlibat kontak senjata dengan kelompok TPNPB OPM pimpinan Kopitua Heluka di kawasan Camp Biru, Kali Senami, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Sabtu (7/11/2026)
Kontak senjata tersebut terjadi setelah pasukan TNI menindaklanjuti informasi dari Satgas Mandala terkait keberadaan kelompok bersenjata pimpinan Kopitua Heluka. Berdasarkan informasi tersebut, personel Satgas Rajawali V dan Satgas Yonif 3 Marinir melakukan penelusuran hingga menemukan kelompok tersebut di sekitar Kali Senami.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto, mengatakan sebelum kontak senjata terjadi, personel TNI telah lebih dahulu melakukan pendekatan persuasif dengan meminta kelompok tersebut menyerahkan diri dan meletakkan senjata.
Namun, menurut Lucky, imbauan tersebut justru dibalas dengan tembakan senjata api ke arah pasukan TNI sehingga terjadi kontak senjata selama kurang lebih 45 menit.
Dalam peristiwa tersebut, sedikitnya 15 anggota kelompok TPNPB OPM pimpinan Kopitua Heluka dilaporkan melarikan diri ke kawasan hutan belantara di Distrik Dekai setelah mendapat tekanan dari pasukan TNI.
Lucky menyebut Kopitua Heluka merupakan salah satu pimpinan kelompok bersenjata yang sebelumnya pernah ditangkap dan menjalani hukuman penjara. Namun, yang bersangkutan dilaporkan melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Wamena pada 25 Februari 2025.
Menurutnya, Kopitua Heluka diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan terhadap masyarakat dengan cara-cara yang dinilai tidak manusiawi.
Usai kontak senjata, pasukan TNI melakukan penyisiran di sekitar lokasi dan menemukan sebuah gubuk yang diduga menjadi tempat persembunyian kelompok tersebut.
Dari lokasi itu, personel TNI mengamankan tujuh pucuk senjata api, terdiri atas dua senjata laras pendek dan lima senjata laras panjang. Selain itu, ditemukan puluhan butir amunisi tajam, dua teleskop, sejumlah senjata tajam, serta selembar bendera Bintang Kejora.
Lucky menegaskan, TNI tetap mengedepankan pendekatan persuasif dalam penanganan kelompok bersenjata di Papua. Ia mengimbau pimpinan, anggota, maupun simpatisan OPM yang masih berada di hutan agar segera menyerahkan diri, meletakkan senjata, dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keamanan serta mendukung pembangunan di Papua.
Namun, apabila imbauan tersebut tidak diindahkan dan kelompok bersenjata tetap melakukan perlawanan, TNI akan mengambil tindakan tegas dan terukur sesuai ketentuan hukum serta aturan pelibatan atau Rules of Engagement (ROE).
Lucky menambahkan, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas pengamanan di wilayah Papua.
Prinsip Salus Populi Suprema Lex Esto atau keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, kata dia, menjadi pedoman bagi seluruh prajurit TNI dalam menjalankan tugas, khususnya ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan masyarakat.(**)

























































Discussion about this post