TIMIKA – jurnalpapua.id
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Sosial terus mempersiapkan pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 76, program pendidikan nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan mereka yang putus sekolah.
Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Mimika, Emelia Samaran, mengatakan saat ini pemerintah daerah tengah menyiapkan lahan seluas 8,2 hektare di Kampung Iwaka, yang sebelumnya merupakan kawasan bekas pola asrama.
“Program Sekolah Rakyat ini merupakan program nasional dari Bapak Presiden Prabowo yang dilaksanakan di seluruh Indonesia. Mimika mendapat Sekolah Rakyat Terintegrasi nomor 76. Saat ini kami masih dalam tahap persiapan pembangunan,” ujar Emelia saat ditemui wartawan di Hotel Horison Diana, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, sebelum pembangunan dimulai, pemerintah terlebih dahulu melakukan relokasi terhadap warga yang masih menempati kawasan tersebut agar lahan siap digunakan.
“Setelah proses relokasi selesai dan lahannya sudah bersih, pembangunan akan dilanjutkan oleh pemerintah pusat. Kementerian Sosial menjadi penanggung jawab program, sedangkan pelaksanaan kontrak pembangunan akan dilakukan oleh Kementerian PUPR,” jelasnya.
Menurut Emelia, Sekolah Rakyat ditujukan untuk menampung anak-anak yang putus sekolah, terutama anak-anak asli Papua, meski tetap terbuka bagi peserta didik dari berbagai latar belakang.
Saat ini, sebagai tahap awal pelaksanaan program, sekitar 60 siswa jenjang SMP dan SMA telah mengikuti pendidikan di Wisma Atlet sejak dibuka pada 2025.
“Kurang lebih ada sekitar 60 siswa yang saat ini belajar di Wisma Atlet. Terdiri dari siswa SMP dan SMA dengan latar belakang yang beragam. Program ini memang tidak hanya untuk anak Papua, tetapi diprioritaskan bagi anak-anak Papua yang putus sekolah,” katanya.
Selain mempersiapkan pembangunan fisik, pemerintah juga mulai menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengajar di sekolah tersebut. Kementerian Sosial telah membuka proses rekrutmen guru lokal yang nantinya akan mengikuti seleksi di Jayapura.
“Bukan hanya guru, tetapi juga tenaga psikologi dan tenaga pendukung lainnya sedang dipersiapkan. Harapannya, sebanyak mungkin tenaga pengajar berasal dari daerah sehingga memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat,” ujar Emelia.
Ia berharap kehadiran Sekolah Rakyat di Mimika dapat menjadi solusi bagi anak-anak yang selama ini kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di Papua.(**)






































Discussion about this post