TIMIKA – jurnalpapua.id
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika memastikan proses rekrutmen calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tahun 2026 telah rampung. Untuk pertama kalinya, seluruh tahapan seleksi dilaksanakan secara penuh melalui sistem daring yang terintegrasi dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Mimika, Ronny Marjen, mengatakan proses rekrutmen telah berlangsung sejak Januari 2026 hingga selesai pada awal Juli.
“Per hari ini proses rekrutmen sudah selesai. Semua dilakukan secara online dan terhubung langsung dengan sistem BPIP,” ujar Ronny saat ditemui wartawan di Hotel Grand Tembaga, Timika, Jumat (10/7/2026).
Dari hasil seleksi tersebut, sebanyak 52 pelajar dinyatakan lolos sebagai calon Paskibraka Kabupaten Mimika, sedangkan 10 pelajar terpilih untuk mengikuti seleksi dan bertugas di tingkat Provinsi Papua Tengah.
Menurut Ronny, para calon Paskibraka akan mulai menjalani pembinaan pada 17 Juli hingga 17 Agustus 2026. Pada tahap awal mereka masih mengikuti latihan secara pulang-pergi sebelum memasuki masa karantina menjelang pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menjelaskan, sistem rekrutmen kini telah terintegrasi dengan aplikasi BPIP sehingga seluruh peserta memiliki akun dan barcode masing-masing sebagai identitas selama proses seleksi.
“Setiap peserta mempunyai barcode dan akun sendiri. Kami hanya memasukkan hasil seleksi ke dalam sistem yang sudah terkoneksi dengan BPIP,” katanya.
Ronny juga mengungkapkan Mimika sempat mengirim 11 peserta untuk mengikuti seleksi tingkat nasional melalui seleksi Provinsi Papua Tengah. Namun, satu peserta asal Mimika yang berhasil menembus tahapan nasional belum berhasil lolos hingga tahap akhir dan kini berstatus sebagai cadangan tingkat provinsi.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi capaian para peserta dan optimistis putra-putri Mimika memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional pada tahun-tahun mendatang.
“Kami tetap bersyukur dengan hasil yang ada. Anak-anak Mimika memiliki potensi yang sangat baik dan kami optimistis ke depan bisa menembus tingkat nasional,” ujarnya.
Di balik keberhasilan pelaksanaan seleksi berbasis digital, Kesbangpol menemukan sejumlah kendala yang akan menjadi bahan evaluasi. Salah satunya adalah keterbatasan akses internet dan kuota data yang dialami sebagian peserta, terutama pelajar yang berasal dari wilayah kampung.
Menurut Ronny, proses pendaftaran yang mengharuskan peserta melakukan verifikasi melalui barcode dan aplikasi masih menjadi tantangan bagi sebagian siswa.
Karena itu, pada rekrutmen tahun depan Kesbangpol akan memulai proses sosialisasi dan verifikasi lebih awal, sekaligus memberikan pendampingan kepada sekolah-sekolah agar seluruh calon peserta memiliki kesempatan yang sama mengikuti seleksi.
“Kami akan melakukan evaluasi lebih dini. Jangan sampai ada anak-anak yang sebenarnya memiliki kemampuan tetapi tidak bisa mengikuti seleksi hanya karena terkendala kuota internet atau proses pendaftaran online. Kami ingin lebih banyak anak-anak dari kampung mendapatkan kesempatan menjadi Paskibraka,” tegasnya.
Ronny berharap penyempurnaan sistem rekrutmen tersebut dapat melahirkan calon-calon Paskibraka yang semakin berkualitas sekaligus memperluas kesempatan bagi pelajar dari seluruh wilayah Kabupaten Mimika untuk mengharumkan nama daerah di tingkat provinsi maupun nasional.(**)







































Discussion about this post