TIMIKA, jurnalpapua.id
Aktivitas pelayanan publik di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, masih dihentikan sementara menyusul gangguan keamanan yang terjadi sejak penembakan terhadap aparat TNI pada 17 Agustus 2026.
Pelayanan pemerintahan, pendidikan hingga kesehatan belum berjalan normal karena seluruh tenaga kesehatan dan guru serta sebagian besar pegawai distrik telah dievakuasi ke Timika demi keselamatan.
Kepala Distrik Jila, Enos Lokobal, mengatakan keputusan mengevakuasi para pelayan publik dilakukan setelah situasi keamanan membuat pegawai mengalami trauma dan khawatir kembali menjalankan tugas di Jila.
“Semua tenaga kesehatan, guru dan sebagian besar pegawai distrik sudah dievakuasi ke Timika demi keamanan. Tidak ada pelayanan di atas karena pegawai masih trauma dengan kejadian penembakan,” kata Enos saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).
Kondisi tersebut membuat pelayanan kesehatan di puskesmas, kegiatan belajar mengajar di sekolah serta pelayanan administrasi pemerintahan distrik untuk sementara tidak berjalan sebagaimana biasanya.
Evakuasi tenaga pelayanan publik sebelumnya juga telah dikonfirmasi Bupati Mimika Johannes Rettob. Pemerintah Kabupaten Mimika menyebut tenaga kesehatan, guru dan aparatur distrik dievakuasi menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara pada 18 Agustus 2026. Mereka akan dikembalikan ke Jila setelah situasi keamanan dinilai benar-benar kondusif.
Trauma Pascapenembakan
Situasi di Jila berubah setelah kontak tembak pecah pada Senin (17/8/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Berdasarkan keterangan Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, kontak tembak melibatkan personel Posramil Jila Kodim 1710/Mimika bersama Pos Satgas Pengamanan Objek Vital Yonif 133/Yudha Sakti dengan kelompok bersenjata yang oleh TNI disebut OPM/KKB.
Dalam insiden itu, Pratu Rizki Kurniawan dari Yonif 133/Yudha Sakti gugur, sedangkan dua prajurit lainnya mengalami luka tembak. Aparat kemudian meningkatkan pengamanan untuk mengantisipasi gangguan keamanan lanjutan.
Dampak gangguan keamanan tidak hanya dirasakan aparatur pemerintah. Menurut Enos, warga yang sebelumnya berada di kampung-kampung juga telah diarahkan dan dikumpulkan di ibu kota Distrik Jila untuk memudahkan pengamanan.
Kondisi itu membuat konsentrasi penduduk di ibu kota distrik meningkat. Pada saat bersamaan, sebagian masyarakat belum dapat kembali melakukan aktivitas seperti berkebun dan mencari bahan makanan.
“Demi keamanan warga kampung, aparat TNI-Polri sudah mengevakuasi warga ke ibu kota distrik. Kami sekarang sibuk distribusi bahan makanan ke Jila karena masyarakat sudah disatukan di ibu kota,” ujar Enos.
Keterangan tersebut sejalan dengan penjelasan Bupati Mimika Johannes Rettob pada 21 Agustus 2026 yang menyebut masyarakat Jila telah terkonsentrasi di ibu kota distrik dan tidak dapat pergi ke kebun maupun ladang karena trauma dan pertimbangan keamanan.
Empat Ton Bahan Makanan Disalurkan
Untuk menjamin kebutuhan warga tetap terpenuhi, Pemerintah Kabupaten Mimika bersama TNI melakukan distribusi bahan makanan melalui jalur udara.
Pemerintah awalnya menyiapkan sekitar empat ton bantuan berupa beras, mi instan, telur dan kebutuhan pokok lainnya. Pengiriman pertama sebanyak sekitar 700 kilogram dilakukan pada Jumat (21/8/2026) menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara dan dilanjutkan secara bertahap.
Pada Senin (24/8/2026), Bupati Johannes Rettob menyatakan sebanyak empat ton bahan makanan telah dikirim untuk menopang kebutuhan warga yang terkonsentrasi di ibu kota Distrik Jila. Pemkab juga memastikan bantuan tambahan akan kembali dikirim apabila persediaan masyarakat berkurang.
Selain penembakan terhadap aparat, situasi keamanan Jila juga menjadi perhatian setelah sembilan perempuan dilaporkan dibawa paksa kelompok bersenjata. Hingga Minggu (23/8/2026), TNI menyatakan pencarian terhadap sembilan warga tersebut masih berlangsung.
Polres Mimika sebelumnya telah mengirim personel Brimob dan tim investigasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara serta memperkuat pengamanan. Polisi menyebut situasi keamanan berangsur mereda, tetapi kewaspadaan tetap ditingkatkan.
Enos berharap kondisi keamanan segera pulih sehingga para tenaga kesehatan, guru dan pegawai distrik dapat kembali ke Jila dan pelayanan kepada masyarakat bisa dibuka kembali.
Untuk sementara, pemerintah distrik memprioritaskan keselamatan masyarakat sekaligus memastikan distribusi bahan makanan tetap berjalan selama warga masih terkonsentrasi di ibu kota distrik. (**)











































Discussion about this post