TIMIKA, jurnalpapua.id
Kabut asap yang menyelimuti Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dalam beberapa hari terakhir berasal terutama dari sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke. Asap terbawa angin dari arah timur hingga tenggara menuju pesisir selatan Papua dan menyebabkan jarak pandang di Timika turun hingga di bawah dua kilometer.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Timika.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Mimika, Wiliam Titahena, mengatakan berdasarkan pemantauan peta sebaran titik panas, konsentrasi hotspot cukup besar terdapat di Kabupaten Merauke.
Dalam pemantauan yang disampaikan Senin (28/9/2026), terdeteksi 644 titik panas di Merauke, terdiri atas 19 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 533 sedang dan 92 tinggi. Sementara di Papua Tengah, dalam pemantauan tersebut hanya terdeteksi dua hotspot tingkat kepercayaan sedang di Kabupaten Nabire.
“Arah angin dominan dari Timur hingga Tenggara membawa asap dari wilayah Merauke bergerak ke barat daya dan menyelimuti Kota Timika,” kata Wiliam.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin lainnya, Stevan, juga menyebut sebaran asap berasal dari karhutla di Papua Selatan. Dalam pemantauan yang mencakup wilayah lebih luas, BMKG mendeteksi sekitar 3.000 hotspot kategori kepercayaan sedang dan sekitar 200 kategori tinggi di Papua Selatan.
Hotspot sendiri merupakan indikasi anomali panas yang dideteksi satelit sehingga tidak setiap titik otomatis merupakan kebakaran yang telah diverifikasi di lapangan.
Besarnya konsentrasi titik panas di Merauke juga telah terpantau sejak awal September. BMKG Wilayah V Jayapura pada 6–7 September mencatat 1.086 hotspot tersebar di 22 distrik di Merauke. Kemudian pada 23 September, Merauke kembali menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak dari 1.862 titik yang saat itu terpantau di enam provinsi di Tanah Papua, yakni sebanyak 849 titik.
Jarak Pandang Turun di Bawah Dua Kilometer
Dampak kabut asap mulai terasa pada jarak pandang di Timika. BMKG mencatat visibility pada pagi hari turun hingga di bawah 2.000 meter.
Stevan mengatakan kondisi tersebut dapat menyebabkan penerbangan pesawat berbadan besar mengalami penundaan atau dialihkan sementara ke bandara lain sambil menunggu jarak pandang membaik. Keputusan operasional penerbangan tetap mengacu pada ketentuan maskapai dan koordinasi dengan Air Traffic Control (ATC).
Kabut asap bahkan telah berdampak terhadap sejumlah penerbangan di Bandara Mozes Kilangin pada Senin. Kapolsek Kawasan Bandara Mozes Kilangin, Ipda Yusran Jaya Milu, mengatakan pesawat Garuda Indonesia sempat melakukan holding sebanyak 15 kali selama sekitar dua jam sebelum mendarat. Penerbangan Lion Air dari Makassar juga mengalami penundaan.
BMKG memperkirakan dampak kabut asap masih berpotensi bertahan hingga Oktober selama karhutla di wilayah sumber masih berlangsung dan pola angin dari timur hingga tenggara belum berubah.
Pembakaran Lokal Mimika Disebut Berkurang
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Mimika, Agustina Rahaded, mengatakan aktivitas pembakaran lokal di Mimika dalam dua pekan terakhir relatif berkurang. Karena itu, kabut asap yang saat ini menyelimuti Mimika diduga sebagian besar merupakan kiriman dari wilayah lain.
“Dalam dua minggu terakhir ini kejadian pembakaran sudah jauh berkurang dan aman. Kabut asap yang ada kemungkinan besar merupakan kiriman dari wilayah tetangga seperti Merauke atau kabupaten lain,” kata Agustina.
BPBD terus berkoordinasi dengan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin terkait prakiraan cuaca dan potensi titik panas. Informasi tersebut kemudian diteruskan untuk disampaikan kepada masyarakat di 18 distrik di Mimika.
Meski sumber dominan asap berasal dari luar Mimika, masyarakat tetap diminta tidak membakar sampah, kebun maupun membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering.
Bupati Minta Warga Gunakan Masker
Bupati Mimika Johannes Rettob meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan kabut asap.
“Kondisi kabut yang terjadi berpotensi menimbulkan gejala-gejala penyakit. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk rutin menggunakan masker setiap hari ketika beraktivitas di luar rumah demi menjaga kesehatan,” kata Johannes, Senin (28/9/2026).
Johannes juga meminta masyarakat tidak memperburuk kondisi udara dengan membakar sampah maupun membuka lahan menggunakan api. Ia telah menginstruksikan seluruh kepala distrik agar meneruskan imbauan tersebut dan memastikan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kabut asap masih terjadi.(**)








































Discussion about this post