TIMIKA, jurnalpapua.id
Pemerintah Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, mulai melakukan langkah antisipatif menghadapi ancaman krisis air bersih akibat kondisi kemarau dan El Niño. Seluruh lurah, kepala kampung hingga ketua RT/RW diminta melakukan pendataan darurat ketersediaan air di lingkungan masing-masing.
Instruksi tersebut dikeluarkan Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, S.STP, menyusul banyaknya informasi dari masyarakat mengenai sumur yang mengalami penurunan debit air, bahkan mulai mengering.
Pendataan dilakukan untuk mendapatkan gambaran sedini mungkin mengenai wilayah yang mulai mengalami kekurangan air, jumlah warga terdampak hingga sumber air alternatif yang masih tersedia.
“Menyikapi kondisi kemarau/El Niño dan mulai banyaknya informasi masyarakat mengenai sumur yang mengalami penurunan debit bahkan sudah kering, saya minta kita tidak menunggu sampai kondisi menjadi krisis,” demikian arahan Kepala Distrik Mimika Baru yang dikeluarkan di Timika, Senin (25/8/2026).
Dalam arahan tersebut, setiap RT diminta segera mendata sedikitnya tujuh komponen penting.
Pertama, jumlah kepala keluarga (KK) yang sumurnya sudah kering atau tidak dapat digunakan. Kedua, jumlah KK yang debit air sumurnya mulai berkurang secara signifikan.
Ketiga, kedalaman sumur warga yang terdampak apabila diketahui. Keempat, lokasi, alamat atau RT yang mengalami kekurangan air.
Selanjutnya, aparat lingkungan juga diminta mendata keberadaan sumur dalam yang masih mempunyai air dengan debit mencukupi.
Pendataan juga mencakup keberadaan tandon atau tangki air maupun sumber air lain yang dapat dimanfaatkan dalam situasi darurat serta perkiraan jumlah KK atau jiwa yang membutuhkan bantuan air bersih.
Laporan Awal Maksimal 2×24 Jam
Pemerintah Distrik Mimika Baru memberikan batas waktu 2×24 jam untuk laporan awal dari wilayah yang telah terdampak.
Lurah dan kepala kampung diminta mengompilasi laporan dari masing-masing RT untuk selanjutnya segera diteruskan kepada Pemerintah Distrik Mimika Baru.
Data tersebut nantinya menjadi dasar bagi pemerintah distrik untuk memetakan wilayah rawan kekurangan air sekaligus berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait dalam menentukan langkah penanganan maupun distribusi air bersih.
Pemerintah distrik menegaskan aparat wilayah tidak perlu menunggu hingga seluruh data terkumpul sempurna.
Wilayah yang sudah diketahui mengalami kekurangan air diminta segera melaporkan kondisi tersebut agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Tidak perlu menunggu seluruh data sempurna. Yang sudah terdampak, laporkan terlebih dahulu,” demikian penegasan dalam arahan tersebut.
Langkah pendataan cepat ini dinilai penting karena kekurangan air bersih dapat meluas apabila musim kemarau berlangsung berkepanjangan dan debit air tanah terus menurun.
Karena itu, pemerintah ingin mengetahui secara pasti tiga hal utama, yakni di mana air mulai habis, berapa jumlah warga yang terdampak, serta di mana sumber air yang masih tersedia.
Hasil pemetaan tersebut diharapkan membuat distribusi bantuan air lebih tepat sasaran, terutama apabila kondisi kekeringan semakin meluas di wilayah Distrik Mimika Baru.
Pemerintah distrik juga meminta seluruh jajaran kelurahan, kampung dan RT/RW memberikan perhatian serius serta segera menindaklanjuti pendataan di lapangan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi agar persoalan berkurangnya debit sumur warga dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi krisis air bersih yang lebih luas. (**)







































Discussion about this post