TIMIKA, jurnalpapua.id
Pelayanan kesehatan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, belum kembali normal setelah rentetan gangguan keamanan yang terjadi pada pertengahan Agustus 2026.
Para tenaga kesehatan yang sebelumnya dievakuasi ke Timika masih memilih bertahan di kota. Mereka meminta adanya kepastian serta jaminan keamanan sebelum kembali menjalankan tugas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Jila.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, mengatakan aspirasi para tenaga kesehatan tersebut telah disampaikan dan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mimika.
Menurutnya, keputusan mengembalikan tenaga kesehatan ke Jila tidak bisa hanya mempertimbangkan kebutuhan pelayanan masyarakat. Keselamatan para petugas yang bekerja di lapangan juga harus menjadi pertimbangan utama.
“Mereka minta jaminan. Mereka butuh jaminan keamanan dan keselamatan saat bekerja. Pak Bupati merespons positif, tetapi beliau juga mempertimbangkan faktor keamanan di sana,” kata Golfried kepada wartawan di Timika, Jumat (11/9/2026).
Dinas Kesehatan Mimika saat ini terus berkoordinasi dengan Bupati Mimika Johannes Rettob sembari memantau perkembangan keamanan di Distrik Jila.
Pemerintah belum ingin mengambil risiko dengan mengirim kembali tenaga kesehatan sebelum memperoleh kepastian bahwa situasi benar-benar memungkinkan bagi petugas sipil untuk bekerja dengan aman.
“Kita lihat-lihat dulu sambil menunggu situasi kamtibmas di Distrik Jila kembali kondusif,” ujar Godfried.
Gangguan keamanan di Jila mencuat setelah insiden penembakan pada 17 Agustus 2026 yang mengakibatkan seorang anggota TNI meninggal dunia. Situasi kembali memburuk sehari kemudian setelah sembilan remaja putri warga setempat dilaporkan diculik.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan pemerintah mengevakuasi tenaga kesehatan dari Jila ke Timika untuk mencegah kemungkinan jatuhnya korban dari kalangan petugas pelayanan publik.
Bukan Hanya Layanan Kesehatan
Golfried menegaskan, dampak situasi keamanan di Jila tidak hanya dirasakan sektor kesehatan. Aktivitas pemerintahan hingga pelayanan pendidikan juga membutuhkan kondisi keamanan yang benar-benar terjamin agar dapat kembali berjalan normal.
“Ini bukan hanya untuk pelayanan kesehatan, tetapi juga pelayanan pendidikan dan pemerintahan distrik,” katanya.
Karena itu, pemulihan pelayanan publik di Jila membutuhkan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah dan aparat keamanan. Pemerintah dihadapkan pada kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan dasar di satu sisi, sementara keselamatan ASN, tenaga kesehatan, guru dan petugas pelayanan lainnya tetap harus menjadi prioritas.
Bagi para tenaga kesehatan, jaminan keamanan menjadi titik penting sebelum mereka kembali ke Jila. Mereka pada prinsipnya tetap memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan kepada masyarakat, namun pelaksanaan tugas tersebut membutuhkan situasi yang aman sehingga tenaga medis dapat bekerja tanpa berada dalam ancaman keselamatan.
Hingga Jumat (11/9/2026), para tenaga kesehatan Jila masih berada di Timika sembari menunggu keputusan pemerintah serta perkembangan kondisi keamanan di wilayah tersebut.(**)







































Discussion about this post