TIMIKA, jurnalpapua.id
Keluarga sembilan perempuan yang dilaporkan menjadi korban dugaan penyanderaan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, mengancam akan melakukan aksi pembalasan dengan menyasar perempuan asal Nduga di Timika apabila para korban yang masih berada dalam penguasaan kelompok bersenjata tidak segera dikembalikan.
Ancaman tersebut disampaikan salah seorang perwakilan keluarga korban yang menggunakan nama samaran Jilame kepada Jurnal Papua, Rabu (9/9/2026), menyusul kabar dua korban berhasil keluar dari lokasi mereka ditahan, namun satu di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
“Kami akan melakukan aksi pembalasan. Perempuan-perempuan Nduga yang seumuran dengan perempuan yang mereka ambil,” kata Jilame.
Ia menegaskan, keluarga menuntut seluruh perempuan yang masih belum kembali agar segera diserahkan kepada keluarga, baik dalam kondisi hidup maupun meninggal dunia.
“Kami dari keluarga korban menyatakan sembilan perempuan itu harus dikembalikan. Hidup maupun meninggal, harus dikembalikan kepada keluarga,” ujarnya.
Menurut Jilame, dua perempuan disebut telah berhasil keluar dari lokasi kelompok bersenjata. Namun, satu di antaranya kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya selamat.
“Yang keluar itu dua. Satu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya masih hidup,” katanya.
Ia menyebut korban yang selamat masih berada di wilayah pedalaman dan sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang memungkinkan untuk dilakukan evakuasi.
Sementara korban yang meninggal dunia disebut telah ditangani melalui prosesi adat oleh keluarga.
Jilame juga membantah pernyataan yang menyebut sembilan perempuan tersebut mengikuti kelompok bersenjata secara sukarela.
Menurutnya, berdasarkan keterangan yang diterima keluarga, para perempuan itu dibawa secara paksa setelah terjadi aksi kelompok bersenjata di wilayah Jila.
“Kalau disebut mereka ikut secara sukarela, itu tidak benar. Mereka benar-benar dipaksa,” ujarnya.
Ia mengklaim terdapat sejumlah saksi yang mengetahui langsung peristiwa tersebut dan menyatakan keluarga siap menghadirkan para saksi apabila dibutuhkan dalam proses hukum.
Jilame juga menuding kelompok bersenjata sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penculikan para perempuan tersebut.
Meski demikian, klaim mengenai pihak yang bertanggung jawab, kondisi terbaru korban, serta kronologi keluarnya dua perempuan tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari aparat keamanan.
Ancaman pembalasan yang disampaikan keluarga juga memunculkan kekhawatiran terjadinya konflik horizontal apabila warga sipil yang tidak berkaitan langsung dengan kasus tersebut ikut menjadi sasaran.
Karena itu, aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat diharapkan segera mengambil langkah pencegahan untuk meredam ketegangan sekaligus memastikan keselamatan warga dari berbagai kelompok masyarakat di Mimika.
Aksi pembalasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dan berpotensi memperluas konflik serta menambah korban baru.
Hingga berita ini diterbitkan, Jurnal Papua masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari aparat keamanan mengenai laporan satu korban meninggal dunia dan satu korban selamat, sekaligus memastikan jumlah perempuan yang masih belum kembali kepada keluarga setelah peristiwa di Distrik Jila.








































Discussion about this post