TIMIKA – jurnalpapua.id
Produksi telur ayam dari peternak lokal di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terus menunjukkan tren positif. Setiap hari, produksi telur mencapai 15,82 ton atau sekitar 237.258 butir, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menciptakan surplus produksi.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika, Emma Kornelia Korwa, mengatakan surplus produksi telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Mimika menghentikan masuknya pasokan telur dari luar daerah.
“Produksi telur di Mimika mencapai 15,82 ton per hari. Jika dihitung dalam sebulan, jumlahnya mencapai sekitar 474,516 ton. Produksi ini sudah jauh melampaui kebutuhan masyarakat,” kata Emma di Timika, Rabu.
Menurutnya, produksi tersebut ditopang oleh sekitar 440.280 ekor ayam petelur yang tersebar di sejumlah peternakan di Mimika.
Emma menjelaskan, tingginya produksi tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga membuka peluang pemasaran ke daerah lain. Saat ini, telur produksi Mimika telah dipasarkan ke sejumlah wilayah pegunungan di Papua, salah satunya Kabupaten Puncak.
“Karena produksinya sangat banyak, Mimika kini menjadi salah satu pemasok telur bagi beberapa daerah di wilayah pegunungan Papua,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang peternak ayam petelur di Mimika, Simon Tukan, mengakui produksi telur lokal saat ini sangat melimpah. Selain memenuhi permintaan masyarakat di Mimika, ia juga rutin mengirim telur ke luar daerah.
“Biasanya saya kirim ke Wamena, Papua Pegunungan, sekitar satu kali dalam sebulan, tergantung permintaan dari sana,” katanya.
Simon menambahkan, harga telur di tingkat peternak masih bervariasi sesuai ukuran. Untuk telur ukuran standar dijual sekitar Rp50 ribu per rak, sedangkan ukuran jumbo mencapai Rp70 ribu per rak.
Surplus produksi telur ini menjadi indikator berkembangnya sektor peternakan di Kabupaten Mimika sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan produksi yang terus meningkat, Mimika kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat setempat, tetapi juga berperan sebagai daerah pemasok telur bagi sejumlah wilayah lain di Tanah Papua.(**)







































Discussion about this post