TIMIKA – jurnalpapua.id
Tokoh Gereja Distrik Tembagapura, Thomas Omaleng, mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika segera mengisi tenaga guru di wilayah pedalaman. Menurut dia, sejumlah gedung sekolah yang telah dibangun di Kampung Arwanop dan beberapa kampung lainnya hingga kini belum berfungsi optimal karena kekurangan guru.
Pernyataan itu disampaikan Thomas Omaleng, dalam kegiatan reses Ancelina Beanal, Rabu (15/7/2026). Ia mengatakan masyarakat di pedalaman tidak lagi membutuhkan janji pembangunan fisik, melainkan kepastian hadirnya pelayanan pendidikan yang berkelanjutan.
Di Kampung Arwanop, kata Thomas, telah berdiri gedung sekolah dasar lengkap dengan rumah dinas guru dan fasilitas pendukung lainnya. Namun, hingga kini kegiatan belajar mengajar belum berjalan sebagaimana mestinya karena belum ada guru yang ditempatkan.
“Saya menyaksikan sendiri pembangunan sekolah itu. Gedungnya sudah bagus, rumah guru juga tersedia. Tetapi sampai hari ini belum ada guru yang mengajar,” ujarnya.
Sementara itu, pelayanan kesehatan di wilayah tersebut sudah berjalan dan mulai dirasakan masyarakat. Puskesmas yang telah dibangun dan diperbarui kini telah melayani warga dari enam kampung, meski Thomas tetap berharap pelayanan itu terus diperkuat dengan penambahan tenaga kesehatan dan dukungan operasional yang memadai.
Thomas menilai persoalan utama saat ini bukan lagi pembangunan infrastruktur, melainkan penempatan tenaga pelayanan di daerah terpencil, khususnya guru. Ia meminta pemerintah menyediakan penerbangan bersubsidi atau penerbangan khusus bagi guru agar mereka dapat bertugas secara berkelanjutan.
“Bukan hanya Arwanop, tetapi Tsinga dan wilayah pedalaman lainnya juga mengalami persoalan yang sama. Yang dibutuhkan sekarang adalah kehadiran guru,” katanya.
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan bangunan yang telah menghabiskan anggaran besar menjadi aset yang tidak dimanfaatkan. Menurut Thomas, keterlambatan menghadirkan pelayanan pendidikan berdampak langsung pada masa depan anak-anak di pedalaman.
“Jangan sampai anak-anak menjadi korban karena pelayanan tidak berjalan. Pendidikan adalah hak masyarakat. Fasilitas sudah dibangun, sekarang saatnya memastikan guru benar-benar hadir,” ujarnya.
Thomas juga mengajak pemerintah menjadikan pembangunan manusia sebagai prioritas utama, bukan sekadar mengejar pembangunan fisik. Menurut dia, kemajuan wilayah pedalaman harus diukur dari hadirnya guru di ruang kelas serta akses layanan yang dapat dirasakan masyarakat setiap hari.
“Kalau gedung sudah berdiri tetapi kosong, masyarakat tidak memperoleh manfaat apa pun. Pemerintah harus memastikan fasilitas yang sudah dibangun benar-benar hidup dan melayani masyarakat,” katanya.(**)







































Discussion about this post