TIMIKA, jurnalpapua.id
Lima puluh tahun perjalanan Mapurujaya bukan sekadar angka. Di tangan Koordinator Labema, Hj. Rampeani Rachman, perayaan HUT Emas Mapurujaya justru menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu, hari ini, dan harapan masa depan.
Pesta rakyat yang digelar di Pelabuhan Perikanan Poumako, Distrik Mimika Timur, Sabtu (22/8/2026), dirancang Rampeani bersama anak-anak Labema bukan hanya sebagai panggung hiburan. Di balik kemeriahan ribuan warga, terselip penghormatan kepada orang-orang yang pernah meletakkan fondasi pembangunan Mapurujaya dan Mimika Timur.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika para pejabat pendahulu Distrik Mimika Timur kembali dipertemukan dalam satu panggung. Pertemuan itu seolah membuka kembali lembaran sejarah ketika Mimika masih menjadi bagian dari Kabupaten Fakfak.
Hadir di antaranya Drs. Wilhelmus Haurissa, Kepala Distrik pertama Mimika Timur, yang kala itu masih berstatus kecamatan. Di hadapan masyarakat, Haurissa menyampaikan selayang pandang mengenai perjalanan wilayah tersebut dan pengalamannya ikut mendorong kemajuan masyarakat pada masa awal pembangunan Mimika.
Kehadirannya membawa suasana nostalgia. Cerita tentang Mapurujaya puluhan tahun silam kembali hidup di tengah generasi yang kini menikmati perkembangan wilayah tersebut.
Tokoh perintis Mapurujaya dan Kabupaten Mimika, Taslim Tuhuteru, juga hadir. Ia mengajak masyarakat menengok kembali sejarah sekaligus menjelaskan filosofi di balik nama Mapurujaya, sebuah nama yang terus melekat dalam perjalanan panjang Mimika Timur.
Di sinilah pesta rakyat yang digagas Rampeani menemukan maknanya. Perayaan tidak berhenti pada musik dan keramaian, tetapi menjadi ruang bagi generasi hari ini untuk mendengar langsung cerita dari mereka yang ikut membuka jalan pada masa lalu.
Rampeani Menghadirkan Penghormatan untuk Para Pendahulu
Rampeani bersama anak-anak Labema memberikan tempat istimewa kepada para mantan pejabat dan tokoh yang pernah mengabdi di Mimika Timur.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian mereka, piagam penghargaan diberikan kepada para mantan pejabat. Penghargaan itu dilengkapi dengan amplop serta emas untuk masing-masing penerima.
Penyerahan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian emosional dalam pesta rakyat. Mereka yang pernah bekerja membangun wilayah itu puluhan tahun lalu kembali berdiri di hadapan masyarakat, kali ini bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari sejarah Mapurujaya.
Bagi Rampeani, HUT ke-50 menjadi momentum yang tepat untuk memastikan jasa para pendahulu tidak hilang ditelan waktu.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sagu berlauk siput dan tambelo. Bukan nasi kuning seperti lazimnya perayaan ulang tahun, melainkan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Mimika.
Sagu, siput dan tambelo dipilih sebagai simbol kekayaan alam sekaligus identitas kawasan Mapurujaya dan Distrik Mimika Timur.
Lewat simbol itu, pesta rakyat seakan mengingatkan bahwa kemajuan Mapurujaya tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan alam yang selama puluhan tahun menghidupi masyarakatnya.
Dari mempertemukan pejabat masa lalu, memberikan penghargaan kepada para pendahulu, menghadirkan pangan lokal hingga mengemas pesan pelayanan melalui lomba tradisional, Rampeani membuat perayaan 50 tahun Mapurujaya memiliki warna tersendiri.
Ia menjadikan pesta rakyat sebagai ruang reuni, penghormatan, budaya sekaligus refleksi.
Di tengah ribuan warga yang datang merayakan, para perintis kembali bertemu dengan generasi penerusnya. Mereka yang dahulu ikut membangun Mapurujaya dapat menyaksikan bagaimana kawasan itu tumbuh setelah melewati perjalanan setengah abad.
Dan di tengah pertemuan lintas generasi itulah, Rampeani Rachman bersama anak-anak Labema mengambil peran sebagai penghubung.
HUT Emas Mapurujaya akhirnya bukan hanya perayaan tentang sebuah wilayah yang genap berusia 50 tahun. Ia menjadi perayaan tentang orang-orang yang pernah mengabdi, masyarakat yang menjaganya, kekayaan alam yang menghidupinya, serta generasi yang kini memikul tanggung jawab untuk membawa Mapurujaya menuju perjalanan berikutnya. (**)











































Discussion about this post