WAMENA, jurnalpapua.id
Kematian Aris Sanda alias Bapak Tasya, sopir lajuran asal Toraja yang menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata di kawasan Danau Habema, Papua Pegunungan, memunculkan duka mendalam di tengah masyarakat Kabupaten Nduga.
Sejumlah warga dari tiga distrik di Nduga bahkan berkumpul di depan sekolah anak-anak mereka, Rabu (16/9/2026). Pertemuan itu bukan sebuah seremoni, melainkan ungkapan kesedihan sekaligus seruan agar para sopir yang selama ini melayani masyarakat tidak lagi menjadi sasaran kekerasan.
Bagi masyarakat Nduga, Aris bukan sekadar sopir pendatang asal Toraja. Bertahun-tahun melintasi jalur Wamena menuju Nduga, ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga di wilayah pegunungan.
Aris dikenal mengangkut bahan makanan dan berbagai kebutuhan masyarakat. Ia juga membawa mama-mama yang hendak berjualan serta mengantar anak-anak dan warga yang bepergian antara Wamena dan Nduga. Kehadirannya dinilai ikut menjaga mobilitas masyarakat di tengah keterbatasan transportasi darat di wilayah tersebut.
Karena itu, kabar kematian Aris tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarganya di Toraja. Warga Nduga mengaku ikut kehilangan orang yang selama ini membantu kehidupan mereka.
Masyarakat kemudian menyampaikan seruan terbuka agar kekerasan terhadap para pengemudi dihentikan. Mereka menegaskan sopir yang membawa penumpang maupun kebutuhan pokok bukanlah pihak yang sedang berkonflik.
“Sopir itu bukan musuh. Dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan untuk kami di Nduga,” kata warga.
Menurut masyarakat, serangan terhadap sopir tidak hanya menghilangkan nyawa seseorang, tetapi juga berpotensi memutus akses transportasi dan distribusi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat pedalaman.
Warga berharap jalur Wamena-Nduga dapat kembali menjadi jalur yang aman, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan, mama-mama yang berjualan, serta masyarakat yang menggantungkan kebutuhan mereka pada angkutan darat. Mereka juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Aris Sanda di Toraja.
Ditemukan Bersama Kendaraan yang Terbakar
Sementara itu, Koops TNI Habema memastikan Aris Sanda ditemukan meninggal dunia bersama kendaraan yang dikemudikannya dalam kondisi terbakar di sekitar Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (16/9/2026).
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menjelaskan, insiden bermula pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIT ketika kendaraan lajuran yang melintas dari Wamena menuju Mbua dihentikan sekelompok orang bersenjata.
Berdasarkan informasi awal TNI, para pengemudi dan penumpang diperiksa. Penumpang kemudian diperintahkan kembali menuju Wamena, sedangkan Aris dibawa ke arah kawasan Danau Habema. Tim Koops TNI Habema selanjutnya melakukan pencarian dan penyisiran hingga menemukan kendaraan dalam keadaan terbakar beserta jenazah korban.
TNI menyebut Aris selama ini bekerja mengangkut logistik dan penumpang masyarakat di jalur Wamena-Mbua. Aparat masih mendalami kronologi kejadian serta mengumpulkan keterangan untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
Di tengah proses penanganan kasus tersebut, suara masyarakat Nduga menyampaikan pesan yang sama: orang-orang yang datang membawa makanan, mengantar anak sekolah dan membantu mobilitas masyarakat seharusnya dapat bekerja tanpa menjadi sasaran kekerasan.(**)








































Discussion about this post