TIMIKA, jurnalpapua.id
Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Sola Gratia, Kabupaten Mimika, menggelar Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 GKI di Tanah Papua yang dirangkaikan dengan HUT ke-18 unsur-unsur jemaat GKI Sola Gratia, Senin (26/10/2026).
Ibadah syukur yang berlangsung di halaman Gereja GKI Sola Gratia tersebut diikuti seluruh jemaat. Perayaan ini menjadi momentum untuk mensyukuri penyertaan Tuhan sekaligus memperkuat iman, persaudaraan, dan komitmen pelayanan gereja.

Dalam khotbahnya, Pdt. Dina F. Youltuwu, S.Si., M.Mis., mengajak jemaat memaknai peringatan tersebut bukan sekadar perayaan usia gereja, melainkan kesempatan untuk merefleksikan karya penebusan, kasih, dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan pelayanan GKI di Tanah Papua.
Ia mengatakan, kehadiran gereja di Tanah Papua merupakan bagian dari karya Tuhan melalui pemberitaan Injil. Karena itu, gereja dipanggil untuk terus menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Tuhan melalui kehidupan dan pelayanan kepada sesama.

Pdt. Dina menekankan tiga hal penting yang perlu menjadi refleksi jemaat, yakni mensyukuri karya penebusan Tuhan, menyadari kesalahan dan ketidaksetiaan manusia, serta terus memberitakan kebaikan Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perjalanan iman tidak selalu berlangsung tanpa tantangan. Sebagaimana dialami bangsa Israel, umat Tuhan juga dapat melakukan kesalahan dan pelanggaran yang membawa konsekuensi dalam kehidupan.

Namun, ia menegaskan bahwa teguran Tuhan bukan berarti hilangnya kasih-Nya kepada umat manusia. Sebaliknya, teguran tersebut merupakan bagian dari didikan agar manusia menyadari kesalahannya, bertobat, dan mengalami pemulihan.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan pelayanan gereja selama 70 tahun tidak selalu diwarnai keadaan yang mudah. Berbagai pergumulan, persoalan, sukacita, hingga air mata menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Meski demikian, penyertaan Tuhan tetap menjadi dasar bagi gereja untuk bertahan dan melanjutkan pelayanan.
“Gereja ini milik Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan menolong dan menyertai kita dalam seluruh proses perjalanan pelayanan,” demikian penegasan Pdt. Dina dalam khotbahnya.
Terkait HUT ke-18 unsur-unsur jemaat GKI Sola Gratia, ia mengajak seluruh pelayan untuk bersyukur atas peran Persekutuan Kaum Bapak (PKB), Persekutuan Wanita (PW), Persekutuan Anggota Muda (PAM), serta Persekutuan Anak dan Remaja (PAR) yang selama ini menopang pelayanan gereja.
Ia menegaskan, perayaan tersebut bukan semata-mata tentang apa yang telah dikerjakan manusia, tetapi juga tentang kasih, kuasa, penyertaan, dan pemulihan Tuhan yang dialami sepanjang perjalanan pelayanan.
Sementara itu, sambutan Badan Pekerja Sinode (BPS) GKI di Tanah Papua yang dibacakan Sekretaris Jemaat GKI Sola Gratia, Pnt. Sieltiel, mengajak seluruh warga gereja memperkuat kehidupan doa, solidaritas kemanusiaan, dan komitmen pelayanan.
Dalam sambutan tersebut, jemaat diajak mendoakan berbagai agenda pelayanan GKI, di antaranya persiapan Sidang Sinode ke-19 di Wondama pada 2027, amandemen Tata Gereja dan Peraturan Gereja, penyusunan Rencana Strategis (Renstra) GKI 2027–2032, serta pelaksanaan sidang-sidang jemaat dan klasis.
Selain itu, perhatian juga diarahkan pada proses pemilihan badan pelayanan gereja, termasuk penatua, syamas, dan badan pekerja unsur-unsur jemaat untuk periode berikutnya.
Sambutan BPS GKI turut menekankan pentingnya solidaritas terhadap warga gereja dan masyarakat Papua yang mengungsi, kerusakan alam dan hutan, serta berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat.
Kepedulian juga disampaikan kepada masyarakat yang hidup dengan HIV/AIDS, mereka yang terdampak penyalahgunaan narkoba, serta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik dan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.
Melalui pesan tersebut, warga gereja diajak membangun perdamaian dengan mengedepankan kasih Kristus, saling mengampuni, serta menjaga manusia dan alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Sambutan itu juga menyampaikan ucapan selamat kepada para pelayan gereja yang baru terpilih, pendeta yang baru diteguhkan, anggota sidi baru, keluarga yang memasuki kehidupan pernikahan, serta warga gereja yang mengemban tanggung jawab baru di lingkungan kerja maupun pendidikan.
Dalam sambutan yang sama, BPS GKI di Tanah Papua menyampaikan data perkembangan gereja dengan jumlah warga mencapai 836.468 jiwa, yang tersebar dalam 2.058 jemaat dan 70 klasis.
Data tersebut juga mencatat sebanyak 203.466 kepala keluarga, 1.158 pendeta, 169 guru jemaat, 60 penginjil, serta 12 Badan Pekerja Sinode Wilayah.
Pertumbuhan tersebut, menurut pesan sambutan, menjadi tanggung jawab besar bagi gereja untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat iman, dan menjawab berbagai kebutuhan jemaat di wilayah pelayanan yang semakin luas.
Selanjutnya, Ketua Panitia Hari Raya Besar Gerejawi GKI Sola Gratia, Frans Kambu, mengatakan perayaan HUT GKI ke-70 dan HUT ke-18 unsur-unsur jemaat diisi dengan sejumlah kegiatan dan perlombaan. Namun, kegiatan utama yang menjadi fokus panitia adalah ibadah Kebaktian Penyegaran Iman.
Menurut Frans, ibadah tersebut menjadi kesempatan bagi jemaat untuk memperbarui iman melalui pujian, penyembahan, dan persekutuan bersama.
Panitia juga menyiapkan perjamuan kasih sebagai ungkapan syukur sekaligus sarana mempererat persaudaraan di antara jemaat.
Ia berharap perayaan tersebut mendorong jemaat semakin bertumbuh dalam iman, memahami sejarah perjalanan gereja, serta mempertahankan identitas dan kekayaan budaya Papua dalam kehidupan bergereja.
Hal itu terlihat dalam pelaksanaan ibadah melalui penggunaan busana khas Papua serta pujian dan penyembahan yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat Papua.
Frans menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, rayon, dan unsur-unsur jemaat yang telah berpartisipasi sehingga rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari kerja sama seluruh pihak, antusiasme jemaat, dan penyertaan Tuhan.
Perayaan HUT GKI ke-70 dan HUT ke-18 unsur-unsur jemaat GKI Sola Gratia kemudian ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun dan jamuan makan bersama.
Melalui perayaan ini, jemaat diharapkan semakin teguh dalam iman, memperkuat kebersamaan, serta terus menghadirkan kasih Kristus dalam pelayanan di gereja dan kehidupan bermasyarakat.(**)
























































Discussion about this post