TIMIKA – jurnalpapua.id
Di sebuah lapak sederhana di Jalan Cenderawasih, Kabupaten Mimika, deretan bendera negara-negara peserta Piala Dunia 2026 berkibar tertiup angin. Warna-warna merah, biru, hijau, hingga kombinasi khas setiap negara tampak mencolok di antara lalu-lalang kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi.
Di tengah riuh itu, Didin (nama panggilan), pria asal Sukabumi yang kini menetap di Tual berjualan terang bulan, memilih “menjemput rezeki” dari momentum empat tahunan yang selalu menyedot perhatian dunia, Piala Dunia.
Dengan nada santai, ia mengakui tidak semua hari membawa keramaian. Namun tetap ada perputaran penjualan yang cukup untuk menopang kebutuhan hidupnya.
“Alhamdulillah ada rezeki, rame sih nggak begitu, tapi ada lah,” ujarnya sambil merapikan susunan bendera yang tergantung di lapaknya.
Didin bukan pendatang baru dalam “pasar musiman” ini. Ia sudah menjalani pola kerja yang sama sejak beberapa tahun lalu, berpindah mengikuti momentum besar seperti Piala Dunia. Di Mimika, ia mengaku sudah berjualan sejak 2022, meski lokasi lapaknya sempat berpindah.
Bagi Didin, Piala Dunia bukan sekadar tontonan olahraga, tetapi juga ruang ekonomi dadakan yang hanya muncul setiap empat tahun sekali.
“Kalau ini kan empat tahun sekali. Kalau tidak habis ya dibalikin, nanti momen lagi dijual lagi,” katanya.
Di lapaknya, berbagai ukuran bendera dijajakan. Dari ukuran kecil hingga yang besar untuk dipasang di rumah atau kendaraan. Harga bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran.
“Ada harga 80 ribu, 130 ribu, 170 ribu dan 300 ribu. Harga sesuai ukuran bendera,” ujarnya menjelaskan.
Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar hingga 15 lembar bendera, tergantung situasi. Dari hasil itu, ia bisa memperoleh ratusan ribu rupiah sebagai komisi dari sistem penjualan yang dikelola bersama pemasok dari Jawa.
“Sehari bisa Rp400 ribu lah,” katanya singkat.
Namun yang menarik, bukan hanya soal angka penjualan. Ada dinamika kecil di balik lapaknya. Bendera negara-negara besar seperti Brasil, Jerman, Argentina, Belanda, hingga Portugal menjadi yang paling banyak dicari pembeli.
“Jerman dan Brasil yang paling laris, sisa sedikit,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik lapak sederhana itu, ada cerita lain yang lebih personal. Didin tidak sendiri. Ia datang dengan ayah dan saudaranya ikut serta dalam aktivitas dagang musiman tersebut. Bagi dia, ini bukan sekadar mencari uang, tetapi juga ruang kebersamaan keluarga sekaligus mengenalkan lingkungan baru di Mimika.
“Ada juga ayah dan saudara saya ikut jualan,” tuturnya.(**)


































Discussion about this post