TIMIKA – jurnalpapua.id
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Mimika mulai melakukan proses verifikasi berkas peserta Pelatihan Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2026. Program yang bekerja sama dengan Asosiasi Pencari Kerja, Lemasa, Lemasko, dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Tercatat lebih dari 2.000 pencari kerja mendaftarkan diri. Namun, sesuai kuota yang tersedia, hanya 500 peserta yang akan mengikuti pelatihan yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Mimika, Paulus, mengatakan seluruh proses pendaftaran telah ditutup dan kini panitia tengah melakukan verifikasi administrasi untuk menentukan peserta yang memenuhi persyaratan.
“Pendaftaran sudah selesai, jumlah pendaftar sebanyak 2.000 orang, dan hanya 500 orang yang akan kita ikutkan dalam pelatihan pekerjaan,” ujar Paulus usai mengikuti Apel Gabungan di Halaman Pusat Pemerintahan (Puspem), Senin (27/7/2026).
Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria, seperti batas usia, riwayat keikutsertaan dalam pelatihan sebelumnya, serta ketentuan yang diatur dalam regulasi. Peserta yang pernah mengikuti pelatihan serupa tidak diperkenankan mendaftar kembali agar kesempatan dapat diberikan kepada pencari kerja lainnya.
Paulus menjelaskan, program pelatihan ini dikhususkan bagi Orang Asli Papua (OAP) dengan komposisi peserta 80 persen Amungme dan Kamoro, 15 persen OAP dari suku Papua lainnya, serta 5 persen kategori Lahir Besar Timika (Labeti).
Pelatihan nantinya akan mencakup sembilan bidang keterampilan, meski jenis pelatihan yang dibuka masih menunggu hasil akhir proses verifikasi peserta.
“Program akan mencakup sembilan bidang pelatihan yang masih menunggu finalisasi hasil verifikasi. Nama-nama peserta yang lolos seleksi dijadwalkan diumumkan pada 28–29 Juli 2026. Jika proses verifikasi belum selesai, pengumuman bisa diperpanjang dua sampai tiga hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Paulus menilai tingginya jumlah pendaftar menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap program peningkatan kompetensi kerja. Kondisi serupa juga terjadi pada program pelatihan yang dibuka PT Freeport Indonesia melalui Program Nemangkawi.
Menurutnya, program tersebut menerima lebih dari 6.000 pendaftar, sementara kebutuhan tenaga kerja yang tersedia hanya sekitar 100 orang, sehingga proses seleksi dilakukan secara sangat ketat.
“Memang banyak sekali permintaan pelatihan ini, ini juga menjadi perhatian kami. Kemarin kami menerima laporan Program Nemangkawi juga membuka pelatihan dengan pendaftar lebih dari 6.000 orang. Padahal mereka hanya menerima sekitar 100 orang,” pungkas Paulus.







































Discussion about this post