Pemerintah Kabupaten Mimika terus memperkuat upaya membangun sumber daya manusia yang unggul melalui penyelenggaraan Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Psikotropika dan HIV/AIDS yang diikuti 350 remaja lintas agama dari unsur gereja, masjid, pura, dan vihara. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Kamis (30/7/2026) ini menjadi bagian dari Sub Kegiatan Fasilitasi Pengelolaan Bina Mental Spiritual sekaligus implementasi visi pembangunan daerah dalam RPJMD Kabupaten Mimika 2025–2029.
ADVERTISEMENT
Sosialisasi tersebut bertujuan membekali generasi muda dengan pengetahuan yang benar mengenai bahaya penyalahgunaan psikotropika, penularan HIV/AIDS, serta langkah-langkah pencegahan sejak dini agar tercipta generasi yang sehat, produktif, dan berkarakter.
Dalam dokumen pelaksanaan kegiatan, pemerintah menetapkan lima tujuan utama sosialisasi. Pertama, meningkatkan pemahaman peserta mengenai jenis-jenis psikotropika, cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS, serta dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial. Kedua, mencegah munculnya kasus baru HIV/AIDS melalui edukasi tentang perilaku berisiko, termasuk penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
Ketiga, membangun kesadaran sejak usia muda agar mampu menjaga diri, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dan menjauhi penyalahgunaan narkoba. Keempat, menghilangkan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sehingga mereka memperoleh dukungan sosial tanpa diskriminasi. Kelima, memberikan informasi mengenai layanan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan psikotropika agar mereka mendapatkan penanganan yang tepat.
Sebagai narasumber, kegiatan menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Mimika Ruslan Awumbas, S.Si., M.Kes, didampingi Dwi Handayani, S.Psi, serta Yoan Tauran, AMK dari Dinas Kesehatan.
ADVERTISEMENT
Komitmen Pemkab Bangun SDM Berkualitas
Membuka kegiatan tersebut, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Setda Mimika, Fransiskus Bokeyau, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika akan terus mendukung berbagai program pembinaan mental, spiritual, kesehatan, pendidikan karakter, hingga pemberdayaan generasi muda sebagai investasi jangka panjang menuju Mimika yang aman, sehat, maju, dan sejahtera.
Menurutnya, anak dan remaja merupakan aset paling berharga bagi masa depan daerah sehingga seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab bersama memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, produktif, dan bebas dari pengaruh negatif.
“Masa depan Kabupaten Mimika sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, produktif, dan terbebas dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka,” tegas Fransiskus.
Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan narkotika dan psikotropika serta penyebaran HIV/AIDS masih menjadi ancaman serius. Penyalahgunaan narkoba, katanya, tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan seseorang, memutus pendidikan, merusak hubungan keluarga, hingga memicu tindakan kriminal.
Sementara itu, minimnya pemahaman, informasi yang keliru, serta perilaku hidup berisiko menjadi faktor yang meningkatkan penyebaran HIV/AIDS, khususnya di kalangan usia muda. Karena itu, edukasi sejak dini dinilai sangat penting dalam membangun kesadaran sekaligus membentuk karakter generasi muda agar mampu menjaga diri dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Fransiskus juga mengapresiasi keterlibatan ratusan peserta dari berbagai latar belakang agama. Menurutnya, keberagaman tersebut mencerminkan semangat persatuan bahwa membangun generasi muda yang sehat dan berkarakter merupakan tanggung jawab bersama tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti sosialisasi secara serius, aktif berdiskusi, dan memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh informasi yang benar dari para narasumber.
Kepada para narasumber, ia berpesan agar materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menghadirkan contoh nyata, solusi, serta motivasi agar para remaja mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir sambutannya, Fransiskus mengajak para remaja untuk menjaga diri, memilih lingkungan pergaulan yang positif, menghormati orang tua dan guru, meningkatkan keimanan sesuai ajaran agama masing-masing, memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengembangkan potensi diri, serta tidak pernah mencoba narkoba maupun perilaku lain yang membahayakan kesehatan dan masa depan.
Ia juga mengajak orang tua, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam pembinaan generasi muda, karena pencegahan penyalahgunaan narkoba dan penyebaran HIV/AIDS tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan dukungan seluruh masyarakat.
Dukung Target RPJMD 2025–2029
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Mimika, Natalia Nimpa, S.E., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi visi dan misi Bupati Mimika sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Mimika Tahun 2025–2029.
Menurut Natalia, pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang sehat, terampil, inovatif, dan produktif.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesadaran generasi muda agar menjauhi penyalahgunaan psikotropika dan memahami bahaya HIV/AIDS, sehingga mampu menjadi generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing sesuai arah pembangunan Kabupaten Mimika,” katanya.
Ia menjelaskan, RPJMD Mimika menargetkan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 77,5 pada 2025 menjadi 80,1 pada 2029, peningkatan partisipasi angkatan kerja hingga 71,3 persen, serta rasio kewirausahaan daerah mencapai 22,8 persen. Target tersebut, menurutnya, hanya dapat dicapai apabila generasi muda memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat.
Dalam pemaparan materi juga disebutkan bahwa penyalahgunaan NAPZA masih menjadi persoalan nasional. Data yang dipresentasikan menunjukkan jumlah penyalahguna usia 15–64 tahun mencapai sekitar 4,1 juta orang pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 4,6 juta orang pada 2026, dengan kelompok usia 20–29 tahun sebagai kelompok paling rentan.
Selain itu, meningkatnya kasus HIV/AIDS pada usia produktif dinilai berdampak terhadap penurunan produktivitas, meningkatnya biaya kesehatan, serta munculnya stigma sosial yang menghambat pembangunan sumber daya manusia.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Mimika mendorong penguatan edukasi kesehatan reproduksi dan bahaya psikotropika di sekolah, kampus, dan komunitas, memperluas layanan rehabilitasi dan konseling, memberdayakan pemuda melalui pelatihan vokasi dan pengembangan UMKM, memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama pencegahan, serta membangun kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, tokoh agama, dan organisasi kepemudaan.
Melalui sosialisasi ini, Pemkab Mimika berharap lahir generasi muda yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan karakter kuat sehingga mampu menjauhi penyalahgunaan psikotropika maupun perilaku berisiko penyebaran HIV/AIDS, sekaligus menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam mewujudkan visi Gerbang Emas RPJMD Mimika 2025–2029.(**)
Discussion about this post