WAMENA – jurnalpapua.id
Suasana Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Kampung Walesi, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mendadak mencekam setelah terdengar suara tembakan saat rangkaian pembukaan festival, Sabtu (8/8/2026).
Informasi yang dihimpun media ini dari masyarakat di sekitar lokasi menyebutkan sedikitnya dua kali suara tembakan terdengar dari arah yang diduga berasal dari kawasan Kampung Elekma, Distrik Napua.
Suara tersebut diduga berasal dari senjata laras panjang yang ditembakkan oleh orang tak dikenal (OTK). Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan yang memastikan identitas pelaku maupun kelompok yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Situasi tersebut sontak membuat pengunjung dan masyarakat yang berada di lokasi festival panik. Aparat keamanan yang berada di sekitar arena kemudian melakukan tindakan pengamanan dan dilaporkan melepaskan tembakan ke arah yang diduga menjadi sumber suara.
Menurut informasi sementara yang diperoleh dari masyarakat, dua orang dilaporkan menjadi korban dalam insiden tersebut. Keduanya kemudian dievakuasi dari lokasi dan dilarikan ke RSUD Wamena untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, masyarakat yang berada di arena festival diarahkan untuk berkumpul dan diamankan di satu titik, yakni kawasan tribun acara, guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan keamanan lanjutan.
Pelaku penembakan dilaporkan melarikan diri ke arah sebuah kendaraan bak berwarna biru sebelum menghilang dari pantauan aparat. Informasi tersebut masih bersifat awal dan belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak keamanan.
FBLB ke-34 tahun 2026 digelar di Kampung Walesi, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Pemerintah Kabupaten Jayawijaya sebelumnya menetapkan Walesi sebagai lokasi penyelenggaraan setelah konsep festival tahun ini dilakukan secara bergilir untuk mendorong pemerataan manfaat ekonomi di berbagai distrik.
Festival di arena utama Walesi dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 7–8 Agustus 2026. Selain kegiatan di arena festival, rangkaian kegiatan budaya juga dilanjutkan dengan kegiatan di Kota Wamena, termasuk Wamena Coffee Street dan Noken Street serta karnaval budaya.
Berbeda dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, FBLB ke-34 tidak menampilkan atraksi perang-perangan tradisional. Pemerintah daerah mengubah konsep pertunjukan menjadi atraksi sosial budaya yang menggambarkan kehidupan, tradisi, dan kebiasaan masyarakat asli Jayawijaya.
Sebelumnya, Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere juga menyatakan pemerintah daerah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk memastikan pelaksanaan FBLB berlangsung aman serta memberikan rasa nyaman kepada masyarakat dan wisatawan.(**)








































Discussion about this post