TIMIKA, jurnalpapua.id
Konflik antara kelompok keluarga Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang berlangsung sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026 telah menewaskan sedikitnya 17 orang.
Pertikaian tersebut disebut bermula dari persoalan perselingkuhan yang terjadi di Kabupaten Puncak. Persoalan pribadi itu kemudian meluas dan melibatkan kelompok keluarga hingga berujung aksi saling serang menggunakan busur dan anak panah.
Berdasarkan data yang disampaikan aparat keamanan hingga Juni 2026, sebanyak 10 korban meninggal berasal dari kelompok Dang dan tujuh lainnya dari kelompok Newegalen.
Konflik tersebut diketahui telah berlangsung sejak sekitar Oktober 2025. Pada 21 Oktober 2025, Polres Mimika sempat mempertemukan perwakilan kedua kelompok untuk melakukan mediasi dan membicarakan penyelesaian secara adat.
Namun, bentrokan kembali terjadi pada awal November 2025. Salah seorang pendeta dilaporkan meninggal setelah terkena anak panah.
Memasuki Januari 2026, jumlah korban meninggal telah mencapai 11 orang, termasuk seorang perempuan.
Pemerintah Kabupaten Mimika bersama Pemerintah Kabupaten Puncak, aparat keamanan, tokoh adat, dan tokoh masyarakat kemudian mempertemukan kedua kelompok.
Pada 12 Januari 2026, kelompok Dang dan Newegalen menjalani prosesi perdamaian adat di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama. Perdamaian ditandai dengan ritual panah babi, patah panah, serta penandatanganan surat kesepakatan damai.
Bupati Mimika Johannes Rettob saat itu meminta kedua kelompok menghentikan seluruh bentuk pertikaian dan kembali hidup berdampingan.
Namun, perdamaian tersebut tidak berlangsung lama.
Pada 11 April 2026, bentrokan kembali pecah di Kampung Meekurima. Tiga orang dilaporkan terluka akibat terkena anak panah, sementara sebuah rumah papan milik seorang gembala terbakar.
Upaya mediasi kembali dilakukan pemerintah, aparat keamanan, serta sejumlah tokoh Papua Tengah.
Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah Agustinus Anggaibak pada Juni 2026 juga menemui kedua kelompok dan meminta pertikaian dihentikan karena kedua pihak masih memiliki hubungan kekeluargaan.
Hingga 18 Juni 2026, jumlah korban meninggal dalam konflik tersebut dilaporkan telah mencapai 17 orang.
Pemerintah daerah menegaskan konflik Dang dan Newegalen bukan perang antarsuku. Pertikaian itu disebut sebagai konflik keluarga yang berawal dari persoalan pribadi dan kemudian berkembang menjadi aksi balas dendam antarkelompok.
Perdamaian kembali dilakukan pada 24 Juni 2026 di Kampung Amole. Untuk kedua kalinya, kedua kelompok menjalani ritual panah babi dan patah panah serta menandatangani kesepakatan untuk menghentikan pertikaian.
Setelah perdamaian tersebut, situasi keamanan di Kwamki Narama berangsur kondusif. Aktivitas sekolah, pelayanan kesehatan, pemerintahan, dan kegiatan masyarakat kembali berjalan.
Aparat keamanan tetap melakukan patroli dan meminta masyarakat tidak membawa senjata tajam maupun melakukan tindakan yang dapat memicu bentrokan baru.
Pada 1 Agustus 2026, seorang warga bernama Jaren Wamang Magai kembali meninggal akibat serangan anak panah. Namun, kepolisian meminta masyarakat tidak mengaitkan kasus tersebut dengan konflik Dang-Newegalen.
Kapolsek Kwamki Narama Iptu Yusak Sawaki menegaskan kasus tersebut merupakan tindak pidana tersendiri dan harus diselesaikan melalui proses hukum.
Pemerintah dan aparat keamanan berharap perdamaian antara kelompok Dang dan Newegalen dapat dipertahankan sehingga konflik serupa tidak kembali terjadi.
Konflik yang bermula dari persoalan pribadi tersebut telah berlangsung sekitar delapan bulan, membutuhkan sejumlah proses mediasi dan dua kali perdamaian adat, serta merenggut sedikitnya 17 nyawa.(**)








































Discussion about this post