TIMIKA, jurnalpapua.id
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menyoroti masih rendahnya pemeriksaan kesehatan ibu hamil di Distrik Iwaka. Dari 188 ibu hamil yang tercatat, baru 85 orang yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan, sementara hanya 35 orang yang menjalani pemeriksaan sesuai standar.
Data tersebut menjadi perhatian karena pemeriksaan kehamilan secara rutin merupakan salah satu instrumen penting untuk mendeteksi sejak dini faktor risiko yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin.
Persoalan itu mengemuka dalam seminar kesehatan reproduksi yang digelar Dinkes Mimika di Distrik Iwaka, Papua Tengah, Kamis (3/9/2026).
Seminar bertajuk “Peran Masyarakat dalam Mengenali Risiko Kehamilan dan Mencegah Kematian Ibu dan Anak” tersebut melibatkan masyarakat, kader kesehatan, keluarga, tokoh masyarakat dan tokoh adat dalam upaya memperkuat pengawasan terhadap kesehatan ibu sejak awal kehamilan.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes Mimika, Nelly Pangaribuan, S.Tr.Keb., Bdn., mengatakan dari 188 ibu hamil yang terdata, baru 85 orang atau sekitar 45,2 persen yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan.
Lebih kecil lagi, hanya 35 ibu hamil atau sekitar 18,6 persen dari total ibu hamil yang tercatat yang telah menjalani pemeriksaan sesuai standar.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama, sebab minimnya pemeriksaan kehamilan berpotensi membuat berbagai faktor risiko, tanda bahaya maupun penyakit penyerta terlambat terdeteksi.
“Kalau tanda bahaya tidak dikenali sejak awal, keputusan untuk mencari pertolongan juga bisa terlambat,” ujar Nelly.
Ia menjelaskan, sejumlah penyakit seperti hipertensi, diabetes, tuberkulosis (TBC), maupun penyakit infeksi lainnya dapat meningkatkan risiko selama masa kehamilan.
Karena itu, perempuan yang memiliki penyakit penyerta perlu memperoleh penanganan medis dan memastikan kondisi kesehatannya terkendali sebelum merencanakan kehamilan.
“Jangan sampai sudah hamil baru diketahui memiliki hipertensi atau penyakit lainnya. Kehamilan harus direncanakan,” tegasnya.
Secara nasional, standar pelayanan kesehatan ibu hamil menetapkan pemeriksaan antenatal atau Antenatal Care (ANC) minimal enam kali selama kehamilan, yakni sekali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Sedikitnya dua pemeriksaan dilakukan oleh dokter atau dokter spesialis obstetri dan ginekologi, masing-masing pada trimester pertama dan ketiga.
Pemeriksaan tersebut tidak hanya untuk memantau perkembangan janin, tetapi juga mendeteksi lebih awal faktor risiko, komplikasi, kondisi gizi ibu hingga penyakit yang dapat memengaruhi keselamatan ibu dan bayi.
Pencegahan Dimulai Sebelum Persalinan
Sementara itu, dr. Leonard Pardede menegaskan, upaya mencegah kematian ibu dan bayi tidak boleh baru dilakukan ketika seorang ibu akan melahirkan. Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya, bahkan sejak perempuan mempersiapkan kehamilan.
Menurut Leonard, perhatian harus diberikan terhadap kesehatan calon ibu, kecukupan gizi, perilaku hidup sehat, menghindari rokok serta mencegah HIV dan penyakit menular seksual.
Lingkungan keluarga yang sehat juga dinilai memiliki peran besar dalam mendukung keselamatan ibu selama masa kehamilan hingga persalinan.
Leonard secara khusus menekankan pentingnya keterlibatan suami. Dukungan, kata dia, tidak sebatas memberikan kebutuhan ekonomi, tetapi juga memastikan ibu memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan.
Suami diharapkan mengantar dan mendampingi istri melakukan pemeriksaan kehamilan, menyiapkan kebutuhan menjelang persalinan hingga mendampingi proses persalinan.
Selain itu, keluarga didorong menerapkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan mempersiapkan lokasi persalinan, tenaga kesehatan yang akan menolong, transportasi, biaya hingga calon pendonor darah apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
P4K sendiri merupakan pendekatan yang mendorong keterlibatan aktif suami, keluarga dan masyarakat untuk merencanakan persalinan aman serta mempersiapkan penanganan apabila terjadi komplikasi pada ibu hamil.
“Kita tidak bisa mencegah semua risiko, tetapi kita bisa mencegah keterlambatan. Kematian adalah urusan Tuhan, tetapi kita harus mengerjakan bagian kita semaksimal mungkin dengan doa dan usaha,” kata Leonard.
Kesehatan Ibu Menentukan Generasi Mimika
Leonard mengingatkan, persoalan kesehatan ibu dan bayi tidak hanya menyangkut keselamatan individu, tetapi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia Mimika di masa mendatang.
Kehamilan yang sehat, persalinan aman serta tumbuh kembang anak yang optimal menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang sehat dan produktif.
Menurut dia, anak-anak yang hari ini lahir dan tumbuh sehat kelak dapat mengambil berbagai peran penting dalam pembangunan Mimika, baik sebagai kepala distrik, bupati, tenaga kesehatan, pengusaha maupun profesi lainnya.
“Ibu yang sehat, bayi selamat adalah tanggung jawab kita semua,” serunya kepada peserta seminar.
Seminar berlangsung interaktif. Peserta menyampaikan berbagai pertanyaan terkait risiko kehamilan, pentingnya pemeriksaan rutin hingga langkah yang harus dilakukan keluarga ketika menemukan tanda bahaya pada ibu hamil.
Melalui kegiatan tersebut, Dinkes Mimika berharap keterlibatan masyarakat di tingkat kampung hingga distrik semakin kuat. Kader, keluarga, tokoh masyarakat dan tokoh adat diharapkan dapat menjadi mata rantai penting dalam memastikan setiap ibu hamil memperoleh pemeriksaan kesehatan secara teratur.
Dengan deteksi dini dan sistem rujukan yang cepat, ibu dengan kehamilan berisiko diharapkan dapat segera mendapatkan pertolongan medis sebelum terjadi komplikasi yang membahayakan ibu maupun bayi.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa keselamatan ibu dan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan seluruh masyarakat sejak kehamilan dimulai.(**)









































Discussion about this post