WAMENA – jurnalpapua.id
Suasana ruang seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Amal Ilmiah (UNAIM) Yapis Wamena mendadak hening, Jumat (24/7/2026). Bukan karena hasil seminar proposal yang menegangkan, melainkan jawaban sederhana dari seorang mahasiswi yang mengundang haru seluruh dosen yang hadir.
Mei Itlay (23), mahasiswi Program Studi Manajemen Retail angkatan 2020, baru saja menyelesaikan seminar proposal penelitiannya. Selama lebih dari satu jam, ia mampu mempresentasikan rencana penelitian dan menjawab seluruh pertanyaan dosen pembimbing maupun penguji dengan baik.
Namun, suasana berubah ketika salah seorang dosen mengajukan pertanyaan, “Mei, selama ini biaya kuliah kamu dapat dari mana?”
Mei terdiam. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam. Tak lama kemudian, air mata mengalir di pipinya.
Dengan suara lirih ia menjawab, “Saya berjualan sayur di Pasar Potikelek, Wamena.”
Jawaban singkat itu membuat ruang seminar seketika sunyi. Para dosen baru mengetahui bahwa selama ini mahasiswi asal Kampung Moai, Distrik Hubikosi, Kabupaten Jayawijaya, tersebut membiayai kuliahnya sendiri dari hasil bertani dan berjualan sayur.
Sejak memasuki semester IV menuju semester V pada 2022, Mei mulai mengolah kebun milik keluarganya. Kondisi ekonomi membuatnya memilih bekerja agar dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa membebani kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia.
Setiap pagi ia merawat kebun, menanam dan memanen berbagai jenis sayuran. Hasil panennya kemudian dijual di Pasar Potikelek. Untuk membawa sayuran ke pasar, Mei harus mengeluarkan biaya transportasi ojek sekitar Rp50 ribu, sedangkan perjalanan pulang menghabiskan sekitar Rp30 ribu. Jarak dari Kampung Moai ke pasar ditempuh sekitar 25 menit.
Rutinitas tersebut dijalaninya hampir empat tahun. Di pagi hari ia menjadi petani, saat panen menjadi pedagang sayur, sementara di sela-selanya tetap mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, hingga menyusun proposal skripsi.
Dari hasil penjualan setiap ikat sayur itulah Mei menabung sedikit demi sedikit untuk membayar uang kuliah dan memenuhi berbagai kebutuhan akademiknya.
Kisah perjuangan itu baru terungkap saat seminar proposal berlangsung.
Salah seorang dosen memberikan apresiasi atas semangat dan kerja keras Mei.
“Jangan pernah malu menjadi petani. Bertani adalah pekerjaan yang mulia. Apa yang kamu lakukan sangat luar biasa. Tidak semua mahasiswa mampu membiayai kuliahnya sendiri. Kamu sudah membuktikan bahwa kerja keras mampu mengantarkanmu hingga sejauh ini. Tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjana,” ujarnya.
Seminar proposal tersebut pun berubah menjadi momen yang menyentuh hati. Bagi para dosen, kisah Mei menjadi pengingat bahwa di balik bangku kuliah sering tersimpan perjuangan yang tidak terlihat.
Kini Mei Itlay telah menyelesaikan seminar proposal dan bersiap menghadapi ujian skripsi. Perjalanan panjangnya dari kebun di Kampung Moai, pasar tradisional, hingga ruang seminar menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak mampu mengalahkan tekad dan kerja keras.
Kelak, ketika mengenakan toga wisuda, gelar sarjana yang diraihnya bukan sekadar sebuah ijazah, melainkan simbol perjuangan, pengorbanan, dan harapan yang tumbuh dari setiap benih yang ditanam serta setiap ikat sayur yang dijual demi mewujudkan cita-cita.(**)







































Discussion about this post