Tokoh Perang Newegalen Tawarkan Perdamaian, Ajak Kubu Dang Akhiri Konflik Kwamki Narama
TIMIKA, jurnalpapua.id
Harapan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Kwamki Narama mulai menguat. Tokoh perang Kelompok Newegalen, Nerius Newegalen, secara terbuka mengajak Kelompok Dang menghentikan pertikaian dan menempuh jalan perdamaian.
Ajakan tersebut disampaikan Nerius saat ditemui di kawasan SP 3, Timika, Jumat (4/9/2026). Ia menilai konflik yang telah berlangsung lebih dari satu tahun harus segera dihentikan agar tidak terus menimbulkan korban dan mengganggu kehidupan masyarakat.
Sebagai Waimum atau kepala perang, Nerius menyatakan pihaknya telah membuka diri terhadap upaya penyelesaian. Menurutnya, persoalan terkait korban yang ada harus menjadi momentum untuk menghentikan peperangan, bukan justru memperpanjang konflik.
Ia berharap Kelompok Dang juga memiliki sikap yang sama sehingga kedua belah pihak dapat duduk bersama dan menyelesaikan persoalan melalui jalan damai.
“Kami mau Kelompok Dang juga harus terima kedua korban ini. Sehingga kita damai, karena perang ini sudah satu tahun lebih terjadi,” kata Nerius.
Menurut Nerius, penghentian konflik sangat penting karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga masyarakat luas.
Jika perdamaian dapat diwujudkan, aktivitas pemerintahan, pendidikan, pelayanan gereja hingga kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat diharapkan kembali berjalan normal tanpa dibayangi rasa takut.
Nerius juga meminta proses perdamaian tidak hanya dilakukan oleh kedua kelompok yang bertikai. Ia berharap TNI-Polri, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Puncak serta Pemerintah Kabupaten Mimika ikut terlibat dalam memfasilitasi penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Keterlibatan pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama dinilai penting agar kesepakatan yang nantinya dicapai dapat diterima semua pihak dan mampu menjaga perdamaian dalam jangka panjang.
Ajakan menghentikan konflik juga disampaikan tokoh masyarakat Yan Tinal. Ia menegaskan pertikaian di Kwamki Narama harus segera diselesaikan melalui perdamaian.
Menurut Yan, seluruh pihak perlu memiliki satu komitmen dan tidak lagi terpecah dalam kepentingan ataupun perbedaan sikap yang berpotensi menghambat proses penyelesaian.
Ia juga mengajak masyarakat mendukung aparat keamanan dalam mengawal proses perdamaian hingga situasi benar-benar aman dan kondusif. Dengan begitu, anak-anak dapat kembali bersekolah dengan tenang, pelayanan gereja berjalan normal, petani kembali bekerja, serta pegawai dan pemerintahan menjalankan aktivitas tanpa rasa takut.
Gereja Diminta Turun Tangan
Sementara itu, tokoh agama Pendeta Anton Uamang meminta para pemimpin gereja di Mimika ikut mengambil bagian aktif dalam upaya menghentikan konflik.
Ia menilai gereja memiliki peran strategis karena masyarakat yang sedang bertikai merupakan bagian dari umat yang harus dirangkul dan didampingi.
Anton berharap tokoh-tokoh gereja tidak menjauh dari persoalan, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk membangun komunikasi, menenangkan kedua pihak dan mendorong terciptanya kesepakatan damai.
Menurutnya, keterlibatan gereja diperlukan agar kehidupan masyarakat dan pelayanan keagamaan di Kwamki Narama dapat kembali berlangsung dalam suasana aman dan damai.
Ajakan terbuka dari Kelompok Newegalen tersebut kini menjadi sinyal penting menuju perdamaian. Harapannya, momentum ini dapat direspons semua pihak dengan dialog dan langkah konkret, sehingga konflik berkepanjangan di Kwamki Narama benar-benar berakhir dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman.(**)







































Discussion about this post