TIMIKA, jurnalpapua.id
Ratusan alumni binaan Yayasan Binterbusih dari berbagai wilayah di Tanah Papua kembali dipertemukan dalam Temu Alumni Binterbusih ke-5 yang berlangsung di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (4/9/2026).
Pertemuan yang digelar selama dua hari, 4–5 September 2026, bukan sekadar ajang melepas rindu antarlulusan. Forum tersebut diarahkan untuk memperkuat jejaring alumni sekaligus merumuskan kontribusi sumber daya manusia (SDM) Papua dalam pembangunan daerah.
Rangkaian kegiatan turut diisi dengan bedah buku serta syukuran dan doa memperingati 50 tahun pengabdian Paul Sudiyo, sosok yang selama puluhan tahun terlibat dalam pembinaan dan pendampingan generasi muda Papua.
Ketua Panitia Temu Alumni Binterbusih ke-5, Nenu Tabuni, mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang pembinaan Binterbusih sekaligus memperkuat kebersamaan para alumni.
Menurutnya, pola pendampingan yang dilakukan selama ini memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak Papua tanpa membedakan asal daerah maupun latar belakang. Generasi muda dari pesisir, pegunungan hingga lembah mendapat ruang yang sama untuk dibina dan mengembangkan diri.
Dari proses panjang tersebut, Binterbusih kini memiliki sekitar 600 alumni yang tersebar di enam provinsi di Tanah Papua, dengan jumlah alumni yang cukup besar berasal dari Kabupaten Mimika.
Jejak pengabdian para alumni pun telah tersebar di berbagai sektor. Sebagian di antaranya pernah maupun sedang mengemban posisi strategis sebagai gubernur, bupati, sekretaris daerah, anggota DPR hingga anggota Majelis Rakyat Papua (MRP). Alumni lainnya berkiprah di sektor swasta dan dunia usaha, termasuk di PT Freeport Indonesia.
Nenu menegaskan, keberadaan organisasi alumni ke depan tidak boleh berhenti sebagai wadah silaturahmi. Alumni diharapkan mampu menjadi kekuatan yang menghimpun dan mengembangkan potensi SDM Papua serta membangun kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
“Berkumpul di sini bukan sekadar untuk temu alumni. Ada hal-hal penting yang ingin kita bangun, termasuk bagaimana ke depan kita bisa berkolaborasi dengan pemerintah serta berbagai pihak lainnya untuk memberikan kontribusi nyata bagi Tanah Papua,” kata Nenu.
Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada pembukaan dan bedah buku. Sementara pada Sabtu (5/9/2026), para alumni dijadwalkan mengikuti misa syukur dan membahas penguatan kepengurusan organisasi alumni, baik di tingkat pusat maupun wilayah.
Pembahasan organisasi tersebut diharapkan melahirkan sistem kaderisasi yang lebih kuat sehingga jejaring alumni dapat terus berkembang dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Papua.
Sementara itu, Direktur Yayasan Binterbusih, Pascalis Abner, menjelaskan bahwa sejak awal Binterbusih berfokus pada pembinaan dan pendampingan generasi muda Papua, terutama mereka yang menempuh pendidikan di Pulau Jawa dan wilayah sekitarnya.
Meski tidak memiliki lembaga pendidikan formal sendiri, Binterbusih menjalankan berbagai program pendampingan untuk membantu mahasiswa Papua dalam menjalani pendidikan sekaligus membangun karakter.
Menurut Pascalis, tantangan pembangunan SDM Papua ke depan semakin kompleks. Karena itu, pola pembinaan harus terus dikembangkan melalui inovasi, kreativitas, pendampingan serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak.
Ia menegaskan, tujuan utama Binterbusih adalah menyiapkan kader-kader Papua yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Temu alumni ke-5 di Mimika pun diharapkan menjadi titik penguatan konsolidasi para alumni, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas agar potensi SDM Papua dapat mengambil peran lebih besar dalam menentukan masa depan Tanah Papua.(**)







































Discussion about this post