TIMIKA, jurnalpapua.id
Upaya mencegah anemia sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia remaja terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Mimika.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika berkolaborasi dengan Puskesmas Wania menggelar Aksi Bergizi di SMP Negeri 8 Mimika, Jumat (4/9/2026), dengan melibatkan para siswa dalam rangkaian kegiatan olahraga bersama, sarapan bergizi hingga minum Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri.
Sejak pagi, seluruh siswa mengikuti aktivitas fisik bersama di lingkungan sekolah. Setelah berolahraga, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan bergizi sebagai bagian dari edukasi mengenai pentingnya asupan makanan sehat bagi pertumbuhan dan aktivitas belajar remaja.
Khusus bagi siswi, petugas kesehatan kemudian memberikan Tablet Tambah Darah sebagai salah satu intervensi untuk mencegah anemia.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye “Aksi Bergizi: Remaja Sehat, Bebas Anemia” yang dirangkaikan dengan edukasi kesehatan bagi siswa SMP Negeri 8 Mimika.
Data yang dihimpun dari kegiatan tersebut menyebutkan sekitar 100 siswi dan 250 siswa laki-laki menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan, sementara pemberian Tablet Tambah Darah secara khusus diberikan kepada remaja putri. SMP Negeri 8 Mimika sendiri memiliki sekitar 922 siswa.
Aksi Bergizi tidak hanya diarahkan pada pemberian suplemen. Olahraga, sarapan sehat dan konsumsi TTD secara bersama-sama menjadi pendekatan untuk membentuk kebiasaan yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Program tersebut menjadi penting karena anemia masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang banyak dialami remaja Indonesia.
Kementerian Kesehatan mencatat berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada kelompok usia 5–14 tahun mencapai 26,8 persen, sementara pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 32 persen. Artinya, secara nasional sekitar tiga dari setiap 10 anak dan remaja menghadapi masalah anemia.
Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, lesu, menurunkan konsentrasi hingga berpengaruh terhadap kebugaran dan produktivitas seseorang.
Remaja putri menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian khusus dalam pencegahan anemia karena kebutuhan zat besi meningkat seiring pertumbuhan dan menstruasi.
Karena itu, pemerintah menetapkan pemberian satu Tablet Tambah Darah setiap minggu bagi remaja putri usia 12–18 tahun di tingkat SMP hingga SMA atau sederajat sebagai salah satu strategi pencegahan anemia.
Di Mimika, upaya tersebut telah masuk dalam program pelayanan kesehatan remaja putri.
Pada Mei 2026, Dinas Kesehatan Mimika mencatat target pelayanan mencapai sekitar 11 ribu remaja putri, dengan capaian ketika itu sekitar 75 persen atau kurang lebih 8.000 remaja. Pemerintah daerah menilai keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah TTD yang dibagikan, tetapi harus memastikan tablet tersebut benar-benar dikonsumsi oleh sasaran.
Dinas Kesehatan Mimika juga menegaskan pemberian Tablet Tambah Darah dilakukan satu kali setiap minggu sejak siswi berada di tingkat SMP hingga kelas III SMA/SMK.
Persoalan kepatuhan memang masih menjadi tantangan secara nasional.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dipublikasikan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan TTD.
Survei yang sama mencatat 51,4 persen remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD mengaku tidak mengetahui manfaatnya. Temuan tersebut menunjukkan pencegahan anemia tidak cukup hanya mengandalkan distribusi tablet, namun harus dibarengi edukasi serta perubahan perilaku.
Di sinilah sekolah memiliki posisi strategis. Sebagian besar akses TTD bagi remaja putri masih berlangsung melalui sekolah, sehingga kolaborasi Dinas Kesehatan, puskesmas, guru dan orang tua menjadi penting untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan.
Konsep Aksi Bergizi memang dirancang bukan semata-mata sebagai program pembagian TTD.
Kementerian Kesehatan dan UNICEF mengembangkan Aksi Bergizi melalui tiga intervensi utama, yakni konsumsi Tablet Tambah Darah mingguan, pendidikan gizi berbasis sekolah untuk mendorong pola makan sehat dan aktivitas fisik, serta komunikasi perubahan perilaku.
Sarapan juga menjadi bagian penting sebelum konsumsi TTD. Kementerian Kesehatan bersama UNICEF bahkan menerbitkan panduan menu sarapan bergizi seimbang bagi remaja sebagai pendukung pelaksanaan Aksi Bergizi di SMP, MTs, SMA, MA dan sekolah sederajat di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, kegiatan di SMP Negeri 8 Mimika tidak sekadar menghadirkan petugas kesehatan ke sekolah, melainkan menanamkan tiga kebiasaan sekaligus kepada siswa: aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi dan mencegah kekurangan zat besi sejak remaja.
Kepala SMP Negeri 8 Mimika, Tania Sihombing, sebelumnya menegaskan pihak sekolah ingin kegiatan kesehatan tersebut tidak berhenti pada satu kali kampanye. Pemeriksaan kesehatan dan pemberian Tablet Tambah Darah akan ditindaklanjuti bersama Puskesmas Wania.
“Ini tidak putus sampai di sini. Setiap bulan akan ada tindak lanjut,” tegasnya.
Kolaborasi Dinas Kesehatan Mimika, Puskesmas Wania dan SMP Negeri 8 Mimika tersebut diharapkan mampu menjadikan sekolah sebagai salah satu garda depan pencegahan anemia.
Sebab, kesehatan remaja tidak hanya menentukan kemampuan mereka mengikuti proses pendidikan hari ini, tetapi juga menjadi investasi bagi kualitas sumber daya manusia Mimika di masa mendatang.(**)









































Discussion about this post