TIMIKA, jurnalpapua.id
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG), Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial, dr. Leonard Pardede, SpOG, Subsp. ObGinsos (K), menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengenali risiko kehamilan dan mencegah keterlambatan penanganan yang dapat berujung pada kematian ibu dan bayi.
Hal itu disampaikan Leonard saat menjadi narasumber dalam seminar kesehatan reproduksi yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika di Distrik Mimika Timur, Papua Tengah, Jumat (28/8/2026).
Seminar tersebut mengangkat tema “Peran Masyarakat dalam Mengenali Risiko Kehamilan dan Mencegah Kematian Ibu dan Bayi.”
Dalam materinya, Leonard mengajak ibu hamil, suami, keluarga, kader kesehatan, serta masyarakat untuk tidak menganggap remeh berbagai kondisi yang muncul selama kehamilan.
Menurut Leonard, kehamilan tidak selalu berlangsung tanpa komplikasi. Karena itu, risiko harus dikenali sejak awal melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin sehingga ibu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Leonard jelaskan tiga keterlambatan
Salah satu materi utama yang disampaikan Leonard adalah mengenai tiga keterlambatan yang dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi.
Pertama, terlambat mengenali tanda bahaya. Kondisi seperti perdarahan, demam, bengkak disertai sakit kepala, hingga berkurangnya gerakan janin tidak boleh dianggap sebagai keluhan biasa.
Kedua, terlambat mengambil keputusan untuk mencari pertolongan. Keluarga perlu segera mengambil keputusan ketika ibu menunjukkan tanda bahaya dan tidak menunggu kondisi menjadi semakin parah.
Ketiga, terlambat mencapai fasilitas kesehatan. Persoalan jarak, transportasi, kondisi cuaca, maupun waktu kejadian harus diantisipasi melalui perencanaan persalinan sejak masa kehamilan.
Leonard menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki kesiapsiagaan, terutama bagi ibu hamil yang tinggal jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Kenali kehamilan berisiko tinggi
Dalam seminar tersebut, Leonard juga menjelaskan sejumlah faktor yang dapat membuat kehamilan masuk kategori berisiko tinggi.
Di antaranya usia ibu terlalu muda atau lebih dari 35 tahun, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, jumlah anak lebih dari empat, riwayat operasi sesar, riwayat perdarahan atau kejang, serta riwayat bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah.
Penyakit penyerta seperti anemia, hipertensi atau preeklamsia, diabetes, malaria, dan sejumlah infeksi juga menjadi perhatian.
Khusus di wilayah Mimika, Leonard mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap malaria pada ibu hamil. Malaria dapat memperberat kondisi anemia dan meningkatkan risiko terhadap ibu maupun janin.
Karena itu, ibu hamil dianjurkan mengikuti pemeriksaan antenatal care (ANC) secara rutin dan melakukan pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Tujuh tanda bahaya wajib diketahui
Leonard juga meminta masyarakat menghafalkan tanda bahaya pada ibu hamil agar pertolongan tidak terlambat.
Tanda-tanda tersebut meliputi perdarahan dari jalan lahir, bengkak pada wajah atau tangan disertai sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan, demam tinggi, ketuban pecah sebelum waktunya, gerakan janin berkurang atau tidak bergerak, muntah terus-menerus atau nyeri ulu hati hebat, serta kejang atau kehilangan kesadaran.
“Jangan menunggu kondisi menjadi berat. Ketika muncul tanda bahaya, ibu harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” demikian penekanan Leonard dalam materi seminarnya.
Peran suami dan keluarga sangat penting
Menurut Leonard, pencegahan kematian ibu dan bayi bukan hanya menjadi tugas bidan atau dokter.
Suami dan keluarga merupakan pihak terdekat yang dapat menentukan cepat atau lambatnya seorang ibu mendapatkan pertolongan.
Karena itu, keluarga perlu mendampingi ibu melakukan pemeriksaan kehamilan, menyiapkan transportasi, memastikan jaminan kesehatan, menyiapkan calon pendonor darah, serta mengetahui fasilitas kesehatan yang dapat dituju ketika terjadi keadaan darurat.
Kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan tetangga juga diharapkan ikut membangun sistem kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.
Bayi baru lahir juga perlu diwaspadai
Selain membahas risiko pada ibu hamil, Leonard memberikan materi mengenai tanda bahaya pada bayi baru lahir.
Bayi yang tidak mau menyusu atau sangat lemah, mengalami kejang, sesak atau napas terlalu cepat, demam maupun suhu tubuh terlalu rendah, kuning yang semakin berat, infeksi tali pusat, serta muntah atau diare terus-menerus perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Leonard menegaskan, bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah membutuhkan perhatian lebih karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Cegah risiko sejak rumah
Melalui seminar yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika tersebut, Leonard mendorong masyarakat agar mulai membangun kesiapsiagaan dari tingkat keluarga.
Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi, kata dia, perlu disiapkan sebelum persalinan, termasuk menentukan tempat bersalin, tenaga kesehatan, transportasi, dana, serta calon pendonor darah.
Pesan utama yang disampaikan Leonard adalah masyarakat mungkin tidak dapat mencegah seluruh risiko kehamilan, tetapi keterlambatan mengenali dan menangani risiko dapat dicegah.
“Ibu sehat, bayi selamat adalah tanggung jawab kita semua.” imbuhnya. (**)







































Discussion about this post